fpip.umsida.ac.id — Tiga mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Esai Nasional pada Festival Sastra Nusantara yang diselenggarakan oleh HIMA PBSI UNP Kediri.
Mereka adalah Fanny Sabillah Huda mahasiswa semester 8, Marissa Kharisma Freisya mahasiswa semester 6, dan Risma Salsabila Nafia mahasiswa semester 4.
Pengumuman pemenang disampaikan pada 25 April 2026.
Prestasi ini diraih melalui karya esai yang mengangkat isu pendidikan dengan sudut pandang psikologis dan ekonomi, khususnya terkait peluang pengembangan program CSR Alfamidi melalui Alfagift agar lebih inklusif bagi anak-anak dengan ADHD.
Mengangkat Isu Pendidikan dengan Perspektif Psikologi
Keberhasilan tiga mahasiswa Psikologi Umsida ini tidak hanya menunjukkan kemampuan menulis ilmiah, tetapi juga kepekaan mereka dalam membaca persoalan sosial yang dekat dengan bidang keilmuan psikologi.
Dalam lomba tersebut, mereka mengangkat tema pendidikan sebagai fokus utama.
Tema ini dipilih karena dinilai memiliki kedekatan dengan pengalaman dan naskah yang pernah mereka susun sebelumnya.
Mereka menjelaskan bahwa ketertarikan mengikuti lomba muncul karena tema yang diangkat cukup spesifik, yaitu pendidikan.
Tema tersebut dianggap membuka peluang lebih besar karena karya sebelumnya juga memiliki keterkaitan dengan isu pendidikan.
Namun, pada lomba kali ini, mereka tidak hanya membahas pendidikan secara umum.
Mereka memperluas gagasan dengan memasukkan faktor psikologis dan ekonomi agar naskah memiliki sudut pandang yang lebih kuat.
Keterbaruan gagasan mereka terletak pada upaya melihat celah program Corporate Social Responsibility atau CSR dari Alfamidi, khususnya melalui Alfagift.
Menurut mereka, program tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas, tetapi belum secara spesifik menyasar anak-anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD.
Dengan pendekatan tersebut, esai yang mereka susun tidak berhenti pada pembahasan teoritis, tetapi juga menawarkan gagasan aplikatif.
Mereka mencoba menunjukkan bahwa program berbasis kepedulian sosial dapat diarahkan untuk mendukung kelompok anak dengan kebutuhan khusus, terutama dalam konteks pendidikan yang lebih inklusif.
Persiapan Sederhana dengan Strategi yang Terarah
Meski berhasil meraih Juara 1, ketiganya mengaku tidak melakukan persiapan yang terlalu rumit.
Mereka lebih banyak menyesuaikan proses penyusunan karya dengan pola naskah yang sebelumnya pernah berhasil meraih prestasi.
Strategi tersebut kemudian disesuaikan dengan tema lomba yang sedang diikuti.
“Persiapannya sebenarnya tidak terlalu khusus. Kami menyesuaikan pembuatan karya dengan karya yang sebelumnya pernah juara, lalu melakukan penyesuaian sesuai tema lomba,” ungkap mereka.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman mengikuti lomba sebelumnya menjadi modal penting.
Mereka tidak memulai dari nol, tetapi menggunakan pengalaman yang sudah ada sebagai pijakan.
Cara ini membuat proses penyusunan esai menjadi lebih efektif karena mereka telah memahami struktur, gaya argumentasi, dan pola penguatan gagasan yang dibutuhkan dalam kompetisi esai.
Namun, bukan berarti prosesnya tanpa pertimbangan akademik.
Mereka tetap melakukan penyesuaian agar naskah yang dikirim tidak sekadar mengulang gagasan lama.
Penyesuaian dilakukan pada aspek tema, fokus masalah, data pendukung, serta penguatan perspektif psikologis dan ekonomi.
Strategi ini cukup rasional. Dalam perlombaan esai, karya yang kuat tidak hanya bergantung pada ide menarik, tetapi juga pada kemampuan menyusun argumentasi yang logis, berbasis data, dan relevan dengan tema.
Karena itu, pengalaman sebelumnya menjadi keuntungan, tetapi tetap harus diimbangi dengan pembaruan gagasan.
Brainstorming Ide Menjadi Tantangan Utama
Dalam proses mengikuti perlombaan, ketiganya mengaku tidak menghadapi tantangan yang terlalu berat. Hal ini karena mereka sudah cukup sering mengikuti lomba serupa.
Pengalaman tersebut membuat mereka lebih siap dalam memahami alur kompetisi, menyusun naskah, dan menyesuaikan gagasan dengan kriteria lomba.
Meski demikian, mereka tetap menghadapi tantangan pada tahap awal, terutama saat melakukan brainstorming ide.
Tahap ini menjadi penting karena menentukan arah keseluruhan tulisan. Mereka harus menemukan gagasan yang bukan hanya menarik, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Menurut mereka, bagian yang cukup sulit adalah membuktikan data-data yang digunakan secara ilmiah. Esai yang baik tidak bisa hanya dibangun dari opini.
Setiap gagasan perlu didukung oleh data, referensi, dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Tantangan yang agak sulit ada pada brainstorming ide awal. Kami perlu pembuktian secara ilmiah terhadap data-data yang diambil,” jelas mereka.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Psikologi Umsida mampu mengembangkan gagasan lintas bidang secara kritis.
Melalui karya esai tersebut, Fanny, Marissa, dan Risma tidak hanya membawa nama baik program studi, tetapi juga menunjukkan bahwa isu pendidikan dapat dikaji secara lebih luas melalui perspektif psikologi, ekonomi, dan kepedulian sosial.
Kemenangan ini juga dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk berani mengikuti kompetisi ilmiah.
Pengalaman, kepekaan terhadap isu sosial, serta kemampuan mengolah data menjadi modal penting dalam menghasilkan karya yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.
Penulis: Nabila Wulyandini


















