fpip.umsida.ac.id — Di balik riuh suara belajar di ruang kelas, tumbuh semangat kepedulian dan kebersamaan yang menjadi wajah pendidikan inklusif di SD Negeri Lemah Putro 1.
Suasana itu dirasakan langsung oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atau Umsida saat melaksanakan Program Pengenalan Lapangan Persekolahan atau PLP I pada 13 April 2026 hingga 18 April 2026.
Kegiatan PLP I tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Umsida untuk mengenal dunia sekolah secara nyata.
Selama berada di SD Negeri Lemah Putro 1, mahasiswa melakukan observasi terhadap lingkungan sekolah, proses pembelajaran, budaya sekolah, serta interaksi antara guru dan peserta didik.
Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pembelajar aktif.
Mereka berusaha memahami bagaimana sekolah membangun lingkungan belajar yang terbuka, ramah, dan adil bagi seluruh peserta didik.
Dari hasil pengamatan, mahasiswa menemukan bahwa nilai keadilan sosial menjadi salah satu nilai penting yang diterapkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Keadilan Sosial Tumbuh dalam Interaksi Siswa

Selama observasi, mahasiswa melihat bahwa penghargaan terhadap perbedaan telah menjadi kebiasaan di SD Negeri Lemah Putro 1.
Perbedaan agama, bahasa, kondisi fisik, maupun kemampuan belajar tidak menjadi alasan bagi siswa untuk saling menjauh.
Sebaliknya, siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dapat bermain, belajar, serta berinteraksi bersama tanpa sekat yang kaku.
Saat kegiatan belajar berlangsung, suasana kelas terlihat hangat dan terbuka.
Guru memberikan ruang kepada setiap anak untuk mengikuti pembelajaran sesuai kemampuan masing-masing. Siswa juga tampak saling membantu ketika ada teman yang mengalami kesulitan.
Sikap sederhana seperti mendampingi teman, berbagi alat belajar, atau memberi kesempatan kepada teman untuk berbicara menjadi gambaran nyata dari pendidikan yang peduli dan inklusif.
SD Negeri Lemah Putro 1 saat ini memiliki 47 siswa inklusif dengan berbagai jenis kebutuhan khusus.
Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman.
Sekolah tidak memandang perbedaan sebagai hambatan, tetapi sebagai kesempatan untuk menanamkan empati, toleransi, dan kepedulian sejak dini.
Nilai keadilan sosial juga terlihat dari cara guru memberikan layanan pembelajaran.
Guru berupaya menyesuaikan strategi mengajar dengan kebutuhan siswa agar materi dapat dipahami dengan baik.
Setiap anak diberi kesempatan yang sama untuk belajar, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan potensi diri.
Untuk mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif, sekolah menyediakan fasilitas seperti ruang sumber dan pendampingan khusus dalam proses belajar.
Fasilitas tersebut menjadi bentuk nyata komitmen sekolah dalam memastikan bahwa setiap peserta didik memperoleh hak pendidikan yang setara tanpa diskriminasi.
Pengalaman PLP Menjadi Bekal Calon Pendidik

Bagi mahasiswa Umsida, kegiatan PLP I di SD Negeri Lemah Putro 1 memberikan pengalaman penting tentang makna pendidikan yang sesungguhnya.
Mereka belajar bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan manusiawi bagi seluruh siswa.
Melalui observasi ini, mahasiswa memahami bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kesabaran, kepedulian, dan kemampuan guru dalam membaca kebutuhan peserta didik.
Guru tidak dapat memperlakukan semua siswa dengan cara yang sama secara kaku, tetapi perlu memberikan pendekatan yang adil sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.
Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa sebagai calon pendidik.
Mereka melihat langsung bahwa sekolah dapat menjadi ruang yang menumbuhkan karakter, bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik.
Di dalamnya, siswa belajar menghargai teman, menerima perbedaan, dan membangun rasa kemanusiaan melalui interaksi sehari-hari.
Kegiatan PLP I ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif dapat berjalan apabila seluruh warga sekolah memiliki komitmen yang sama.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, SD Negeri Lemah Putro 1 mampu menciptakan lingkungan belajar yang tidak membedakan peserta didik berdasarkan kondisi maupun latar belakang mereka.
Mahasiswa Umsida pulang dengan membawa pemahaman baru bahwa pendidikan harus membuka ruang yang sama bagi setiap anak.
Semangat menghilangkan sekat dalam pendidikan diharapkan terus tumbuh agar semua peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita mereka.
Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan PLP I SD Negeri Lemah Putro 1 Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Tahun 2026.
Penulis: Tim PLP 1
Editor: Nabila Wulyandini















