fpip.umsida.ac.id — Dua mahasiswa Umsida, Zulfah Ramadhinta dan Nazar Febrianto, berhasil meraih Juara 2 dalam lomba Psychoverse Videografi.
Pengumuman pemenang disampaikan pada 27 April 2026 setelah karya peserta melalui proses penilaian oleh panitia.
Keduanya merupakan mahasiswa semester 4 dari Program Studi Psikolgi yang mengikuti kompetisi tersebut sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan visual, kreativitas, serta keberanian dalam menghasilkan karya audiovisual yang komunikatif.
Keikutsertaan Zulfah dan Nazar dalam lomba ini bukan hanya berorientasi pada pencapaian juara, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar di luar ruang kelas.
Mereka melihat videografi sebagai bidang yang menuntut kepekaan ide, kemampuan menyusun pesan, penguasaan teknis pengambilan gambar, hingga ketelitian dalam penyuntingan.
Karena itu, kompetisi Psychoverse Videografi menjadi kesempatan untuk menguji sejauh mana passion mereka dalam dunia visual dapat dikembangkan menjadi karya yang layak diapresiasi.
“Alasan kami tertarik mengikuti lomba ini karena ingin mencoba banyak hal dan ingin mendalami passion yang sudah dimiliki dalam bidang visual,” ungkap keduanya.
Ketertarikan tersebut menjadi dorongan utama untuk mengikuti perlombaan, meskipun harus menyesuaikan waktu antara kegiatan akademik, persiapan produksi, dan proses editing.
Persiapan Naskah hingga Editing

Persiapan lomba dilakukan secara bertahap. Zulfah dan Nazar memulai proses dengan membuat naskah video sebagai dasar cerita dan alur visual.
Tahap ini penting karena naskah menjadi pedoman utama dalam menentukan pesan yang ingin disampaikan, urutan adegan, serta gaya penyajian video.
Tanpa naskah yang jelas, proses produksi berisiko tidak terarah dan hasil akhir sulit menyampaikan gagasan secara utuh.
Setelah naskah selesai, keduanya menentukan setting tempat yang sesuai dengan kebutuhan cerita.
Pemilihan lokasi menjadi bagian penting karena suasana, pencahayaan, dan latar visual berpengaruh terhadap kualitas pesan yang dibangun dalam video.
Mereka juga menyiapkan kebutuhan teknis saat pengambilan gambar, termasuk properti, perangkat perekaman, pembagian peran, serta penyesuaian jadwal take video.
Proses produksi tidak berhenti pada pengambilan gambar. Setelah seluruh footage terkumpul, Zulfah dan Nazar melanjutkan tahap editing.
Bagian ini menjadi proses yang cukup menentukan karena editor harus memilih gambar terbaik, menyusun alur, mengatur ritme, menyesuaikan audio, serta memastikan hasil akhir tetap menarik dan mudah dipahami.
Melalui karya tersebut, keduanya ingin menunjukkan bahwa video tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga media penyampai pesan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Ide sederhana dapat menjadi kuat apabila dirancang dengan alur yang jelas, visual yang rapi, dan pesan yang relevan dengan penonton.
Prinsip inilah yang mereka pegang selama proses produksi berlangsung hingga akhirnya mampu menghasilkan karya yang lebih matang lagi.
Editing juga menjadi ruang untuk memperkuat emosi dan pesan yang ingin dihadirkan dalam karya videografi tersebut.
Menurut mereka, tantangan terbesar selama perlombaan adalah mencari waktu yang tepat untuk take video dan editing.
Kegiatan akademik dan aktivitas lain membuat proses produksi harus diatur dengan cermat.
“Tantangannya tentu dalam mencari waktu untuk take dan editing. Selebihnya, alhamdulillah aman,” jelas mereka.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa manajemen waktu menjadi faktor penting dalam keberhasilan mengikuti lomba berbasis produksi visual.
Ruang Berkarya dan Mengasah Passion
Keberhasilan meraih Juara 2 dalam Psychoverse Videografi menjadi bukti bahwa minat mahasiswa dalam bidang visual dapat berkembang apabila diberi ruang untuk dicoba secara serius.
Zulfah dan Nazar tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga melewati proses kreatif yang mengasah kemampuan berpikir konseptual, bekerja sama, menyusun strategi produksi, dan menyelesaikan tantangan teknis.
Prestasi ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa perlu berani masuk ke berbagai ruang kompetisi.
Perlombaan tidak hanya menjadi tempat membandingkan kemampuan dengan peserta lain, tetapi juga menjadi sarana evaluasi diri.
Melalui kompetisi, mahasiswa dapat mengetahui kelebihan, kekurangan, serta aspek yang perlu dikembangkan dalam karya berikutnya.
Bagi Zulfah dan Nazar, pengalaman ini menjadi motivasi untuk terus berkarya di bidang visual.
Kemenangan tersebut bukan titik akhir, melainkan awal untuk lebih serius mendalami videografi.
Dengan proses persiapan yang matang dan keberanian mencoba, keduanya membuktikan bahwa passion dapat menjadi jalan produktif untuk mencetak prestasi.
Ke depan, pencapaian ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti kompetisi sesuai minat masing-masing.
Dunia kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga ruang untuk mengembangkan bakat, membangun portofolio, dan menunjukkan kemampuan melalui karya nyata.
Penulis: Nabila Wulyandini
















