fpip.umsida.ac.id — Sepuluh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menyelesaikan kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan 1 di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 2 Tulangan Sidoarjo pada tanggal 13-18 April 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar awal bagi calon guru untuk mengamati ekosistem pendidikan dasar secara langsung, mulai dari kultur sekolah, manajemen, pelaksanaan pembelajaran, fasilitas, kompetensi pendidik, hingga peran guru dalam membentuk karakter peserta didik.
Melalui PLP 1, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu.
Sekolah adalah lingkungan yang membangun kebiasaan, kedisiplinan, nilai religius, dan keterampilan sosial peserta didik.
Di SD Muhammadiyah 2 Tulangan, suasana belajar didukung lingkungan fisik yang bersih, rapi, dan asri.
Sekolah memiliki dua gedung utama, yaitu gedung timur untuk kelas 1 hingga 3 dan gedung barat untuk kelas 4 hingga 6.
Ketersediaan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, serta media pembelajaran digital turut memperkuat proses pendidikan.
Fasilitas tersebut membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih efektif, sedangkan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang nyaman dan terarah.
Dari pengamatan tersebut, mahasiswa dapat melihat hubungan antara sarana sekolah, budaya belajar, dan kualitas layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga belajar membaca dinamika sekolah secara objektif, mulai dari pola interaksi guru dan siswa, pembiasaan harian, sampai strategi sekolah dalam menjaga ketertiban serta kenyamanan belajar bagi seluruh peserta didik di lingkungan sekolah secara konsisten dari hari ke hari.
Budaya Islami Menguatkan Karakter Peserta Didik

Sebagai sekolah dasar berbasis Islam, SD Muhammadiyah 2 Tulangan membangun kultur religius melalui pembiasaan harian yang konsisten.
Sejak pagi, guru dan peserta didik membudayakan 3S, yaitu senyum, sapa, dan salam.
Budaya ini tidak hanya menjadi rutinitas penyambutan, tetapi juga sarana menanamkan adab, kesantunan, rasa hormat, dan kedekatan emosional antara pendidik dan peserta didik.
Kegiatan pembelajaran dimulai pukul 07.10 WIB. Peserta didik melakukan absensi di depan kelas, memberi salam kepada wali kelas, lalu duduk melingkar untuk membaca doa sebelum belajar beserta artinya.
Kegiatan dilanjutkan dengan hafalan surat dalam Juz 30, doa harian, hadis, dan ice breaking untuk membangun semangat belajar.
Sekolah juga menerapkan program tahfidz dan tartil selama 2 x 45 menit. Target kelulusan peserta didik adalah mampu menghafal empat juz, yaitu juz 1, 28, 29, dan 30.
Pada program tartil, peserta didik mempelajari jilid 1 sampai 6, ghuroib, dan tajwid sebelum mengikuti munaqosah tartil.
Pembiasaan ibadah juga diperkuat melalui salat Dzuhur berjamaah, salat sunah, kultum, serta salat Dhuha bersama bagi kelas 4, 5, dan 6 setiap Jumat.
Kultum yang disampaikan peserta didik menjadi media latihan keberanian, public speaking, literasi, dan pemahaman nilai keislaman.
Rangkaian budaya tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter dilakukan melalui kebiasaan nyata, bukan hanya melalui penyampaian nasihat di kelas.
Craftivity Day Menjadi Pengalaman Belajar Kreatif

Selain kultur religius, mahasiswa juga mengamati penerapan pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Guru tidak hanya mengandalkan buku, tetapi menghadirkan pengalaman belajar melalui outing class, pembelajaran outdoor, outbound, dan proyek keterampilan.
Salah satu program yang menarik perhatian mahasiswa adalah Craftivity Day.
Dalam kegiatan tersebut, peserta didik membuat tas berbahan tali rami. Aktivitas ini melatih ketelatenan, kesabaran, motorik halus, kerja sama, dan apresiasi terhadap proses.
Meskipun produk yang dihasilkan memiliki bentuk serupa, setiap peserta didik belajar menghargai usaha sendiri dan teman.
Penggunaan bahan ramah lingkungan juga memperkenalkan nilai kepedulian ekologis sejak dini.
Bagi mahasiswa PGSD Umsida, PLP 1 menjadi pengalaman penting untuk memahami realitas sekolah dasar secara utuh.
Mereka tidak hanya melihat cara guru mengajar, tetapi juga bagaimana sekolah membangun budaya, mengelola kegiatan, menanamkan nilai, dan mengembangkan potensi peserta didik.
Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai calon guru profesional, kreatif, dan berkarakter.
Melalui observasi langsung di SD Muhammadiyah 2 Tulangan, mahasiswa belajar bahwa kualitas pendidikan lahir dari sinergi antara lingkungan kondusif, visi sekolah yang jelas, pembelajaran inovatif, dan keteladanan guru.
PLP 1 juga menegaskan bahwa calon guru perlu memahami sekolah sebagai ekosistem yang kompleks.
Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya siap mengajar materi, tetapi juga siap mendampingi tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh.
Penulis: Tim PLP 1
Editor: Nabila Wulyandini















