fpip.umsida.ac.id — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) melalui inovasi berjudul FOCUSMIND-AR Modul Ajar Digital Augmented Reality Berbasis Psikologi Kognitif untuk Mengelola Overstimulasi Siswa Akibat Paparan Konten Viral.
Tim ini diketuai oleh Fahmi Anisa Herviana dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan dosen pembimbing Mahardika Darmawan Kusuma Wardana, M.Pd.
Ia bekerja bersama empat anggota, yakni Nur Zakiyyatul Ula dari PGSD, Tiara Insani Anggun Bekti Wiguna dari Psikologi, Salwa Muthia Rahma dari Psikologi, serta Rosania Ayu Setiawati dari Ilmu Komunikasi.
FOCUSMIND AR Jawab Krisis Fokus Siswa
Ketua tim, Fahmi Anisa Herviana, menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari fenomena “brain rot” atau krisis atensi belajar pada siswa sekolah dasar akibat konsumsi konten viral di media sosial.
Menurutnya, paparan video pendek yang terlalu intens dapat membuat siswa mengalami overstimulasi, cepat bosan, dan sulit mempertahankan fokus saat belajar.
“Topik utama yang kami angkat adalah fenomena brain rot atau krisis atensi belajar pada siswa sekolah dasar akibat overstimulasi konsumsi konten viral di media sosial,” ujar Fahmi.
Sebagai solusi, tim mengembangkan FOCUSMIND-AR, yaitu modul pembelajaran digital berbasis Augmented Reality untuk mata pelajaran IPAS kelas 6.
Modul ini dirancang menggunakan prinsip psikologi kognitif dan Attention Restoration Theory. Desain visualnya dibuat minimalis dengan konsep whitespace agar tidak membebani kognitif siswa.
Fahmi menambahkan, modul ini tidak hanya menjadi media belajar, tetapi juga dirancang sebagai upaya preventif dan rehabilitatif untuk melatih kembali rentang perhatian anak.
“FOCUSMIND-AR kami kembangkan sebagai solusi preventif dan rehabilitatif agar siswa dapat belajar dengan lebih fokus, tidak mudah terdistraksi, dan tetap nyaman secara kognitif,” jelasnya.
Kolaborasi Lintas Prodi Perkuat Riset

Keberhasilan tim ini tidak terlepas dari pembagian tugas yang jelas.
Fahmi sebagai ketua mengoordinasikan tahapan penelitian, menyusun storyboard modul AR, melakukan kalibrasi instrumen, memimpin intervensi di sekolah, serta menyusun laporan.
Nur Zakiyyatul Ula bertugas melakukan validasi instrumen tes pemahaman IPAS, mengurus perizinan dengan SDN Lebo, mendampingi intervensi, serta mengelola administrasi tim.
Tiara Insani Anggun Bekti Wiguna menyusun kuesioner adiksi media sosial, mengambil data awal fokus siswa, serta mengolah data statistik menggunakan SPSS atau JASP.
Sementara itu, Salwa Muthia Rahma melakukan kajian literatur mengenai Cognitive Load Theory, menganalisis mekanisme brain rot dalam perilaku belajar siswa, serta mengevaluasi fokus pasca-intervensi.
Rosania Ayu Setiawati berperan menganalisis tren konten media sosial, melakukan observasi non-partisipatif, mengumpulkan data baseline dan evaluasi akhir, serta mengelola publikasi hasil riset.
“Proposal ini kuat karena kami menggabungkan bidang Pendidikan, Psikologi Kognitif, dan Ilmu Komunikasi. Jadi masalahnya tidak dilihat dari satu sisi saja, tetapi dari pembelajaran, atensi anak, dan budaya konsumsi konten digital,” kata Fahmi.
Proses penyusunan proposal dimulai sejak Januari. Meski terkendala jadwal kuliah dan libur pada Februari, tim tetap melanjutkan diskusi secara daring melalui Zoom.
Mereka bahkan rutin bertemu secara online pada malam hari untuk menyusun proposal, membagi tugas, dan mengevaluasi progres.
Dari Diskusi Malam Menuju PIMNAS
Nur Zakiyyatul Ula mengaku sangat bersyukur saat mengetahui timnya lolos pendanaan PKM-RSH.
Baginya, hasil tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, komunikasi, dan kekompakan tim dapat membawa hasil positif.
“Perasaan saya sangat senang dan bersyukur ketika tahu tim kami berhasil lolos pendanaan PKM-RSH. Dari proses mencari ide, menyusun proposal, revisi, sampai diskusi setiap malam, akhirnya semua membuahkan hasil,” ungkap Nur.
Ia juga menilai pengalaman paling berharga dari proses ini adalah belajar menyusun penelitian secara serius.
Tantangan terbesar yang dirasakan adalah membagi waktu antara perkuliahan dan penyusunan proposal. Selain itu, tim juga harus mencari topik yang relevan, kuat secara akademik, dan memiliki nilai kebaruan.
“Tantangan paling membekas adalah membagi waktu antara kuliah dan proposal. Mencari topik yang menarik juga tidak mudah, karena kami harus banyak berdiskusi dan membaca referensi agar proposal benar-benar matang,” jelas Nur.
Penelitian ini akan dilaksanakan secara langsung di SD Negeri Lebo, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.
Tim berharap implementasi FOCUSMIND-AR dapat berjalan lancar dan memberi kontribusi nyata terhadap pembelajaran siswa sekolah dasar.
“Harapan saya, penelitian ini bisa berjalan lancar dan tim kami dapat melaju sampai PIMNAS untuk membanggakan nama Umsida,” tutur Nur.
Melalui FOCUSMIND-AR, tim ini ingin menunjukkan bahwa persoalan fokus belajar anak di era digital perlu ditangani secara serius.
Bukan hanya dengan membatasi penggunaan gawai, tetapi juga dengan menghadirkan desain pembelajaran yang adaptif, menarik, dan ramah terhadap kondisi kognitif siswa.
Penulis: Nabila Wulyandini

















