fpip.umsida.ac.id — Fenomena buka puasa bersama (bukber) setiap Ramadan terus menjadi agenda sosial yang nyaris “wajib” bagi banyak orang, terutama pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda.
Bukber pada dasarnya lahir dari semangat silaturahmi: mempererat hubungan setelah lama tidak bertemu, saling memaafkan, dan berbagi kabar dalam suasana Ramadan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, bukber juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup bahkan memunculkan pola konsumsi yang cenderung berlebihan.
Di berbagai kota, bukber identik dengan tempat makan populer, menu yang “estetik”, sesi foto untuk media sosial, hingga tuntutan tidak tertulis untuk tampil rapi dan mengikuti tren.
Tidak sedikit yang akhirnya merasakan tekanan sosial: khawatir dianggap tidak solid jika tidak hadir, atau takut “ketinggalan momen” jika tidak ikut beberapa bukber sekaligus.
Situasi ini membuat bukber bergeser dari ruang kebersamaan menjadi rutinitas sosial yang menuntut biaya dan energi.
Jika tidak disikapi dengan bijak, bukber berpotensi menjadi pintu masuk budaya konsumtif selama Ramadan.
Padahal, Ramadan juga mengajarkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan kepekaan sosial.
Tantangannya bukan pada bukbernya, melainkan pada cara memaknai dan mengelola kebiasaan tersebut agar tetap sejalan dengan nilai puasa.
Dari Silaturahmi ke Ajang Gaya Hidup

Ilustrasi: Ai
Bukber sering dimulai dengan niat yang baik: reuni kecil untuk menyambung tali persaudaraan.
Namun dinamika sosial saat ini mendorong bukber menjadi agenda berulang, misalnya bukber teman sekolah, teman organisasi, rekan kerja, komunitas, hingga keluarga besar.
Satu orang bisa menerima banyak undangan dalam satu Ramadan. Di titik ini, bukber bukan lagi pertemuan hangat sesekali, melainkan “kalender sosial” yang padat.
Perubahan makna bukber semakin terasa ketika pilihan tempat dan konsumsi menjadi fokus utama.
Ada dorongan untuk memilih restoran tertentu karena dianggap lebih “layak posting”, memesan menu beragam agar meja terlihat penuh, atau menambah pengeluaran untuk outfit dan transportasi.
Bahkan momen ibadah bisa tersisih karena waktu habis untuk perjalanan, antre, hingga sesi dokumentasi.
Selain itu, bukber juga memunculkan pola pembanding sosial. Ketika unggahan media sosial menampilkan bukber di tempat mahal, sebagian orang merasa perlu “menyamai” agar tidak terlihat berbeda.
Budaya ini menguatkan konsumerisme: belanja bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan citra dan penerimaan sosial.
Strategi Bijak Menahan Konsumtif Tanpa Menghilangkan Kebersamaan

Ilustrasi: Pexels
Mengelola bukber tidak harus berarti menolak silaturahmi. Kuncinya adalah menata prioritas dan mengembalikan bukber pada substansi.
Pertama, tentukan batas: berapa kali bukber yang realistis dan sehat secara finansial serta waktu.
Membuat anggaran khusus Ramadan dapat membantu mengukur kemampuan tanpa mengganggu kebutuhan pokok.
Kedua, pilih format yang lebih sederhana. Bukber tidak selalu harus di kafe atau restoran.
Alternatif seperti bukber di rumah, di masjid, atau berbagi menu potluck (setiap orang membawa makanan) bisa menjaga kebersamaan tanpa membebani satu pihak.
Ketiga, sepakat soal tujuan: fokus pada obrolan yang bermakna, saling mendoakan, dan menyisihkan waktu untuk ibadah sebelum atau setelah buka.
Keempat, tekan budaya “pamer” secara halus. Dokumentasi tidak dilarang, tetapi jangan menjadi pusat acara.
Jika bukber berujung pada pemborosan, jadikan momentum ini untuk saling mengingatkan dengan cara elegan: memilih tempat terjangkau, memesan secukupnya, dan menghindari tren yang memaksa.
Mengembalikan Ramadan pada Nilai Pengendalian Diri

Ilustrasi: Pexels
Ramadan menghadirkan latihan spiritual yang menuntun pada pengendalian nafsu, termasuk nafsu konsumsi.
Bukber seharusnya menjadi perpanjangan nilai tersebut: memperkuat hubungan dan kepedulian, bukan sekadar memenuhi selera dan gengsi.
Ketika bukber berubah menjadi perlombaan tempat, menu, dan tampilan, nilai puasa berisiko meredup dalam hiruk-pikuk sosial.
Karena itu, perlu kesadaran kolektif untuk mengubah arah budaya bukber. Bukber yang sehat adalah bukber yang tidak membuat orang lain tertekan, tidak memaksa pengeluaran di luar kemampuan, dan tetap memberi ruang untuk ibadah.
Silaturahmi tetap bisa terjaga, sekaligus Ramadan tetap bermakna sebagai bulan sederhana, reflektif, dan peduli pada sesama.
Penulis: Nabila Wulyandini

















