FPIP Umsida Gaungkan Pesan Damai dan Maslahat

fpip.umsida.ac.id — Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menyampaikan pesan keislaman yang menekankan pentingnya damai dan maslahat di tengah situasi dunia yang dinilai penuh gejolak.

Melalui unggahan di media sosial resminya, FPIP Umsida mengajak masyarakat, khususnya umat Muslim, untuk kembali meneguhkan prinsip dasar hukum Islam sebagai jalan yang menghadirkan kebaikan dan menolak kerusakan.

Pesan utama yang diangkat berbunyi “Damai dan maslahat adalah koentji,” sebuah seruan yang menempatkan perdamaian dan kemanfaatan sebagai fondasi dalam menjalankan ajaran Islam.

Dalam unggahan tersebut juga dicantumkan kutipan Surah Al-A’raf ayat 56 yang mengingatkan agar manusia tidak berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.

Ayat itu sekaligus menegaskan bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

Ajakan ini muncul pada saat wacana keagamaan kerap diuji oleh situasi global yang sarat konflik, polarisasi, dan ketegangan sosial.

Karena itu, FPIP Umsida tidak sekadar menyampaikan pesan moral, tetapi juga meneguhkan arah bahwa umat perlu menempatkan nilai maslahat sebagai pertimbangan utama dalam bersikap, berbicara, dan bertindak.

Seruan tersebut relevan dengan peran institusi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membangun cara pandang yang jernih, etis, dan bertanggung jawab.

Menegaskan Islam sebagai Jalan Kebaikan

Pesan yang disampaikan FPIP Umsida berangkat dari prinsip penting dalam Islam, yakni mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.

Dalam konteks kehidupan modern, prinsip ini sangat mendasar karena menjadi penuntun dalam merespons berbagai persoalan sosial, budaya, hingga kemanusiaan.

Islam tidak ditempatkan sebagai ajaran yang memperuncing masalah, tetapi sebagai pedoman yang menghadirkan solusi, ketenangan, dan keadilan.

Kutipan Al-Qur’an yang digunakan memperkuat arah tersebut. Larangan berbuat kerusakan bukan hanya bermakna fisik, tetapi juga mencakup kerusakan dalam ucapan, sikap, relasi sosial, hingga cara membangun pandangan terhadap pihak lain.

Karena itu, ketika FPIP Umsida mengangkat gagasan damai dan maslahat, substansinya bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa keberagamaan perlu diwujudkan dalam bentuk yang menenteramkan dan membangun.

Pada saat yang sama, seruan ini juga menunjukkan bahwa kekuatan seorang mukmin tidak selalu diukur dari kerasnya sikap, tetapi dari kemampuannya menjaga iman, menguatkan ibadah, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran dengan tetap mengutamakan kedamaian.

Ini penting, sebab sebagian orang masih keliru memahami ketegasan agama sebagai pembenaran untuk bertindak kasar, reaktif, atau memecah belah.

Relevan bagi Dunia Pendidikan dan Kehidupan Sosial

Bagi lingkungan kampus, pesan damai dan maslahat memiliki makna yang sangat strategis.

Dunia pendidikan adalah ruang pembentukan nalar, karakter, dan kepedulian sosial.

Karena itu, ajakan seperti yang disampaikan FPIP Umsida sejalan dengan fungsi kampus sebagai tempat tumbuhnya generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dalam kehidupan sosial yang serba cepat, mahasiswa dan masyarakat kerap berhadapan dengan arus informasi yang provokatif, emosional, dan kadang menyesatkan.

Di sinilah pentingnya prinsip maslahat. Setiap respons terhadap isu publik, perbedaan pandangan, maupun persoalan keumatan perlu ditimbang berdasarkan dampaknya: apakah menghadirkan kebaikan, atau justru menambah kerusakan.

Pendekatan seperti ini lebih rasional, dewasa, dan sesuai dengan nilai Islam yang berorientasi pada kebermanfaatan.

Melalui pesan tersebut, FPIP Umsida tampak ingin menegaskan bahwa menjadi Muslim yang kuat berarti memiliki keteguhan iman sekaligus kejernihan sikap.

Kekuatan tidak identik dengan kemarahan, tetapi dengan kemampuan mengendalikan diri, menjaga akhlak, dan memilih jalan yang paling membawa manfaat.

Di tengah dunia yang sedang bergejolak, seruan damai dan maslahat semacam ini bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk terus dihidupkan.

Penulis: Nabila Wulyandini

 

Bertita Terkini

FPIP Umsida
FPIP Umsida Aktif Kembali 26 Maret 2026
March 25, 2026By
FPIP Umsida Sambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah
March 23, 2026By
Gema Takbir
Gema Takbir Iringi Antusiasme Umat Sambut Hari Kemenangan
March 21, 2026By
Workshop Kampanye
Workshop Kampanye Anti Bullying PPG Cagur 2026
March 20, 2026By
Zakat Fitrah
Pentingnya Menunaikan Zakat Fitrah dan Maal di Bulan Ramadhan
March 19, 2026By
Lailatul Qadar
Bukan Sekadar Begadang Ini 5 Amalan Menjemput Lailatul Qadar
March 18, 2026By
puasa
Puasa: Meniti Kesabaran Menuju Puncak Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
March 17, 2026By
FPIP Umsida Gelar Buka Puasa Bersama Pererat Silaturahmi Ramadan
March 16, 2026By

Prestasi

Fanny Sabillah
Fanny Sabillah Huda Raih 8 Penghargaan dalam 2,5 Bulan
February 12, 2026By
Mahasiswi Psikologi Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto
February 5, 2026By
Medali Perunggu
Nata Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Ju-Jitsu Piala Koni Mojokerto 2026
January 30, 2026By
Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru Umsida Raih Juara 2 Medali Perak di Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto
January 29, 2026By
Medali perak
Jehan Aldama Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala Koni
January 24, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By