Talking Time

Dr Dian Bahas Strategi Talking Time di Forum Malaysia

fpip.umsida.ac.id — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) kembali menunjukkan kiprah akademiknya di tingkat internasional melalui partisipasi dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Dr. Dian Rahma Santoso, dalam forum yang digelar di Universiti Malaya, Malaysia, Selasa, 14 April 2026.

Dalam kegiatan kuliah tamu yang menjadi bagian dari konferensi internasional bertajuk Madani Global Inbound Mobility Program, ia memaparkan hasil penelitian berjudul Talking Time: Fostering English Speaking Skill for Preschool Teachers.

Di hadapan hampir 200 peserta dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina, Dian menyoroti persoalan klasik dalam pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang pendidikan anak usia dini.

Yakni dominasi guru saat berbicara di kelas dan minimnya ruang bagi siswa untuk aktif menggunakan bahasa.

Menurutnya, persoalan ini masih banyak ditemukan, terutama di lingkungan prasekolah di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa “Talking Time” tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai banyaknya waktu guru berbicara.

Lebih dari itu, konsep tersebut merupakan strategi penting yang menentukan bagaimana anak memperoleh kesempatan memahami, meniru, lalu menggunakan bahasa Inggris secara aktif dan efektif dalam proses belajar.

“Guru prasekolah di Indonesia umumnya menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan kemampuan bahasa Inggris dasar seperti tata bahasa dan pelafalan,” tuturnya saat membuka sesi.

Tidak hanya itu, ia juga menyoroti kecenderungan guru mencampur bahasa Inggris dengan bahasa ibu dalam pembelajaran.

“Kecenderungan mencampur bahasa Inggris dengan bahasa ibu dalam proses pembelajaran juga banyak dilakukan oleh para guru yang berdampak pada kelelahan mengajar dan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan,” jelasnya.

Menyeimbangkan Peran Guru dan Siswa di Kelas

Dalam paparannya, Dian mengulas dua konsep utama dalam pengajaran bahasa, yaitu Teacher Talking Time (TTT) dan Student Talking Time (STT).

TTT merujuk pada porsi waktu guru berbicara selama pembelajaran berlangsung, sedangkan STT menunjukkan seberapa banyak kesempatan siswa berbicara dan merespons.

Menurutnya, selama ini banyak guru terlalu dominan saat mengajar, sehingga siswa justru menjadi pasif.

Padahal, kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris tidak dapat berkembang hanya dengan mendengar penjelasan.

Anak perlu diberi ruang untuk mencoba, menirukan, dan memproduksi bahasa secara langsung.

“Guru sering kali terlalu dominan dalam berbicara. Padahal, untuk meningkatkan kemampuan bahasa, siswa perlu lebih banyak kesempatan untuk berlatih secara langsung,” ungkapnya.

Meski demikian, Dian menegaskan bahwa TTT bukan berarti sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini, guru tetap memegang peran penting sebagai fasilitator sekaligus model penggunaan bahasa yang benar.

Yang paling menentukan bukan banyak atau sedikitnya guru berbicara, melainkan kualitas tuturannya, konteks penggunaannya, serta kemampuannya membuka ruang interaksi bagi siswa.

Ia menyebutkan bahwa rasio ideal antara TTT dan STT berada pada angka 30:70, dengan porsi lebih besar pada siswa.

Akan tetapi, dalam praktik di kelas anak usia dini, guru tetap dibutuhkan untuk memberi arahan, penguatan, contoh pengucapan, dan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Hasil Penelitian Tunjukkan Arah Pembelajaran Lebih Interaktif

Penelitian yang dipaparkan Dian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap 30 calon guru prasekolah.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, rekaman video, wawancara, serta catatan lapangan.

Untuk membaca pola komunikasi yang muncul di kelas, penelitian ini menggunakan Flanders Interaction Analysis Categories System (FIACS).

Dari hasil analisis tersebut, terlihat bahwa pola komunikasi guru mulai bergeser ke arah yang lebih interaktif.

“Temuan ini mengindikasikan bahwa guru mulai mengadopsi pendekatan yang lebih interaktif dalam mengajar,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa kategori indirect talk seperti pujian, dorongan, dan pertanyaan mendominasi dengan persentase 55,10 persen, sedangkan direct talk tercatat sebesar 44,90 persen.

Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan guru tidak lagi sepenuhnya berpusat pada instruksi satu arah, tetapi mulai memberi ruang lebih luas bagi anak untuk terlibat dalam pembelajaran.

Salah satu bentuk komunikasi yang dinilai paling efektif adalah pujian sederhana seperti “Good job” atau “Wow, that’s great”.

Menurut Dian, ungkapan-ungkapan semacam itu bukan hanya membangun suasana kelas yang positif, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk mencoba berbicara dalam bahasa Inggris.

Selain pujian, teknik bertanya juga menjadi strategi yang sangat penting.

Pertanyaan yang diberikan guru dapat menjaga keterlibatan siswa, memancing respons aktif, sekaligus mendorong anak berpikir dan mengekspresikan diri.

Pengulangan juga disebut sebagai teknik efektif, terutama untuk membantu anak memahami kosakata dan makna tanpa selalu bergantung pada terjemahan bahasa ibu.

“TTT bukan berarti guru mendominasi kelas tanpa memberi ruang kepada siswa, melainkan bagaimana guru menggunakan bahasa secara strategis untuk memfasilitasi pemahaman dan mendorong siswa berbicara,” jelasnya.

Perkuat Kolaborasi dan Inovasi Pendidikan Lintas Negara

talking time

Menutup paparannya, Dian menyampaikan harapannya agar forum internasional semacam ini tidak berhenti sebagai ruang presentasi ilmiah semata, tetapi juga menjadi titik temu bagi lahirnya kolaborasi pendidikan lintas negara.

Baginya, pertemuan akademik internasional membuka peluang besar untuk saling bertukar pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkaya praktik pengajaran di berbagai konteks.

“Harapan saya, seminar ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat kolaborasi internasional dalam bidang pendidikan,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga memberi dampak penting bagi lingkungan akademik Umsida.

Melalui forum semacam ini, mahasiswa dan sivitas akademika dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Inggris, khususnya untuk anak usia dini.

“Kegiatan ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman lintas negara sehingga mahasiswa Umsida juga mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa, sekaligus mendorong inovasi dalam praktik pengajaran di berbagai konteks pendidikan,” sambungnya.

Penulis: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

FPIP Fair
FPIP Fair 2026 Jadi Momentum Terakhir Kebersamaan FPIP Umsida
June 1, 2026By
Psikologi
Mahasiswa Psikologi Umsida Gelar NEXORA 2026
May 29, 2026By
Brain Rot
FOCUSMIND AR Lolos PKM RSH Tawarkan Solusi Brain Rot Siswa
May 28, 2026By
Infografis Competition
REAKSI FPIP Gelar Infografis Competition Pelajar SMP SMA
May 27, 2026By
PKM AI
Mahasiswa PGSD Umsida Lolos PKM AI dengan Media Ular Tangga
May 26, 2026By
Anak Sukorejo Antusias Ikuti Mewarnai Bersama
May 25, 2026By
Bahasa Inggris
Bahasa Inggris Wajib SD Perkuat Kompetensi Global Siswa
May 23, 2026By
Pelecehan Seksual
Trauma Korban Pelecehan Seksual Butuh Ruang Aman
May 22, 2026By

Prestasi

Brain Rot
FOCUSMIND AR Lolos PKM RSH Tawarkan Solusi Brain Rot Siswa
May 28, 2026By
PKM AI
Mahasiswa PGSD Umsida Lolos PKM AI dengan Media Ular Tangga
May 26, 2026By
Tiga Mahasiswa
Tiga Mahasiswa Psikologi Raih Juara Esai Nasional
May 19, 2026By
Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026
May 6, 2026By
Videografi Psychoverse
Dua Mahasiswa FPIP Raih Juara Videografi Psychoverse
May 5, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By