Ghozali Rusyid

Ghozali Rusyid Mengatakan Puasa Bantu Kelola Stres dan Menenangkan Pikiran

fpip.umsida.ac.id — Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Bagi banyak orang, bulan suci ini juga menjadi ruang latihan untuk bersabar, menata emosi, dan menenangkan pikiran.

Menariknya, proses spiritual tersebut dapat memberi efek positif bagi kesehatan mental.

Pandangan ini disampaikan oleh Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP), Ghozali Rusyid Affandi, S.Psi., M.A.

Ia menekankan bahwa puasa bisa menjadi sarana yang efektif untuk memperkuat pengendalian emosi sekaligus menjaga stabilitas psikologis.

Kuncinya, menurut dia, terletak pada kemampuan menyeimbangkan aspek biologis, psikologis, dan spiritual selama menjalani ibadah.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan mengelola emosi dan pikiran agar lebih stabil,” tuturnya.

Mengelola Stres Saat Puasa dengan Menjaga Keseimbangan
Ghozali RusyidIlustrasi: Pexels

Ghozali menjelaskan bahwa pengelolaan stres saat berpuasa akan lebih optimal jika dilakukan dengan pendekatan yang utuh: fisik (biologis) dan mental (psikologis serta spiritual).

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

1. Sahur dengan gizi seimbang
Dari sisi biologis, ia menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks dan protein saat sahur agar kadar gula darah tidak turun drastis (hipoglikemia).

Kondisi ini penting karena otak membutuhkan energi untuk membantu mengatur emosi sepanjang hari.

Dalam Islam, anjuran untuk tidak meninggalkan sahur juga ditegaskan karena di dalamnya terdapat keberkahan (HR. Bukhari & Muslim).

“Keberkahan ini termasuk kesiapan fisik dan mental untuk beribadah sepanjang hari. Intinya jangan sampai meninggalkan sahur,” kata Ghozali.

2. Menjalankan puasa dengan kesadaran penuh (mindfulness)
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan juga memahami makna ibadahnya.

Seseorang perlu peka ketika emosi mulai terpancing karena lapar, lalu memberi jeda sebelum bereaksi.

Dalam ajaran Islam, saat emosi muncul, seorang muslim dianjurkan mengingat puasanya dengan mengatakan “Aku sedang berpuasa”, membaca ta’awudz, serta mengubah posisi atau berwudhu untuk meredakan amarah.

3. Menghindari hal sia-sia (laghw)
Agar tidak cepat lelah secara mental, seseorang sebaiknya menjauhi perdebatan atau kegiatan yang menguras emosi.

Islam mengajarkan orang yang berpuasa untuk meninggalkan dusta, perilaku bodoh, dan hal tidak bermanfaat, sehingga energi mental tetap tersimpan untuk aktivitas yang lebih baik.

Ibadah Ramadan dan Mekanisme Penurunan Stres

Ghozali Rusyid

Ilustrasi: Pexels

Ghozali juga menyebut bahwa pembiasaan spiritual di bulan Ramadan dapat membantu menurunkan tingkat stres bila dijalankan dengan tepat, baik secara syariat maupun penghayatan maknanya. Efek ini bekerja melalui dua jalur utama:

1. Relaksasi jasmani dan batin (tatma’innul qulub)
Aktivitas seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan salat malam dapat bekerja menyerupai meditasi mendalam.

Secara biologis, rutinitas tersebut berpotensi menurunkan hormon stres (kortisol), menstabilkan detak jantung, dan membuat pikiran lebih tenang.

Dalam Islam, kondisi ini dikenal sebagai ketenteraman hati (tatma’innul qulub), selaras dengan QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

2. Terapi kognitif melalui ibadah
Kegiatan doa, iktikaf, dan muhasabah membantu menggeser fokus dari tekanan duniawi menuju rasa syukur dan kepasrahan kepada Allah.

Proses ini sejalan dengan konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang mendorong seseorang lebih positif, lebih kuat, dan lebih sehat secara mental dalam menghadapi tekanan hidup.

Menurutnya, Ramadan bukan hanya menyehatkan jiwa melalui spiritualitas, namun juga dapat memperbaiki respons tubuh dan pikiran terhadap stres secara ilmiah.

Puasa dan Peningkatan Kecerdasan Emosional

Selain membantu mengelola stres, latihan pengendalian diri selama Ramadan dinilai dapat meningkatkan kecerdasan emosional (EQ). Prosesnya tampak dalam beberapa hal berikut:

1. Membentuk kebiasaan yang menetap (neuroplastisitas dan istiqamah)
Menahan amarah dan melatih kesabaran selama 30 hari berulang dapat membantu otak membangun jalur saraf baru (neuroplastisitas).

“Latihan ini membuat kemampuan pengendalian diri tidak lagi terasa berat, tetapi menjadi respons otomatis yang terbawa bahkan setelah Ramadan usai,” jelas Ghozali.

2. Menajamkan empati dan kepedulian sosial
Pengalaman lapar dan dahaga membuat seseorang lebih memahami kondisi orang yang kekurangan.

Dari sini, empati tumbuh dan mendorong aksi konkret seperti sedekah, zakat, serta berbagi kepada sesama.

3. Menguatkan kecerdasan emosional sekaligus spiritual
Tujuan akhir puasa adalah mencapai takwa: kemampuan menahan diri dari hal buruk sekaligus memiliki kelapangan hati untuk memaafkan.

“Ketika seseorang mampu menahan amarah dan memaafkan, itu menunjukkan kecerdasan emosional sekaligus kecerdasan spiritual yang tinggi,” pungkas Sekprodi Psikologi tersebut.

Sumber: Ghozali Rusyid Affandi, S.Psi., M.A.

Penulis: Romadhona S.

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

SDN Tenggulunan
Mahasiswa Umsida Jalani PLP 1 di SDN Tenggulunan
May 13, 2026By
Mahasiswa PGPAUD
Mahasiswa PGPAUD Umsida Dalami Dunia PAUD Melalui PLP 1
May 12, 2026By
Lemah Putro 1
Mahasiswa Umsida Belajar Pendidikan Inklusif di SDN Lemah Putro 1
May 11, 2026By
PGSD Umsida
PLP 1 PGSD Umsida Ungkap Praktik Pendidikan Kreatif SD Muda
May 9, 2026By
Mahasiswa PGSD
Mahasiswa PGSD Umsida Temukan Kultur Sekolah Inklusif di Mojokerto
May 8, 2026By
SDN Kedungrawan 1
Mahasiswa PGSD Umsida Dalami Peran Guru di SDN Kedungrawan 1
May 7, 2026By
Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026
May 6, 2026By
Videografi Psychoverse
Dua Mahasiswa FPIP Raih Juara Videografi Psychoverse
May 5, 2026By

Prestasi

Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026
May 6, 2026By
Videografi Psychoverse
Dua Mahasiswa FPIP Raih Juara Videografi Psychoverse
May 5, 2026By
Mahasiswa S2
Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Umsida Raih Juara di Malaysia
May 4, 2026By
Student Mobility
Mahasiswa S2 Dikdas UMSIDA Raih Penghargaan Paper Terbaik di Program Student Mobility
April 25, 2026By
Dymas Satriagung
Dymas Satriagung Raih Dua Juara di Kompetisi Internasional Malaysia
April 16, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By