bukber

Bukber dan Budaya Konsumtif Dibulan Ramadan 2026

fpip.umsida.ac.id — Fenomena buka puasa bersama (bukber) setiap Ramadan terus menjadi agenda sosial yang nyaris “wajib” bagi banyak orang, terutama pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda.

Bukber pada dasarnya lahir dari semangat silaturahmi: mempererat hubungan setelah lama tidak bertemu, saling memaafkan, dan berbagi kabar dalam suasana Ramadan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, bukber juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup bahkan memunculkan pola konsumsi yang cenderung berlebihan.

Di berbagai kota, bukber identik dengan tempat makan populer, menu yang “estetik”, sesi foto untuk media sosial, hingga tuntutan tidak tertulis untuk tampil rapi dan mengikuti tren.

Tidak sedikit yang akhirnya merasakan tekanan sosial: khawatir dianggap tidak solid jika tidak hadir, atau takut “ketinggalan momen” jika tidak ikut beberapa bukber sekaligus.

Situasi ini membuat bukber bergeser dari ruang kebersamaan menjadi rutinitas sosial yang menuntut biaya dan energi.

Jika tidak disikapi dengan bijak, bukber berpotensi menjadi pintu masuk budaya konsumtif selama Ramadan.

Padahal, Ramadan juga mengajarkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan kepekaan sosial.

Tantangannya bukan pada bukbernya, melainkan pada cara memaknai dan mengelola kebiasaan tersebut agar tetap sejalan dengan nilai puasa.

Dari Silaturahmi ke Ajang Gaya Hidup

bukber

Ilustrasi: Ai

Bukber sering dimulai dengan niat yang baik: reuni kecil untuk menyambung tali persaudaraan.

Namun dinamika sosial saat ini mendorong bukber menjadi agenda berulang, misalnya bukber teman sekolah, teman organisasi, rekan kerja, komunitas, hingga keluarga besar.

Satu orang bisa menerima banyak undangan dalam satu Ramadan. Di titik ini, bukber bukan lagi pertemuan hangat sesekali, melainkan “kalender sosial” yang padat.

Perubahan makna bukber semakin terasa ketika pilihan tempat dan konsumsi menjadi fokus utama.

Ada dorongan untuk memilih restoran tertentu karena dianggap lebih “layak posting”, memesan menu beragam agar meja terlihat penuh, atau menambah pengeluaran untuk outfit dan transportasi.

Bahkan momen ibadah bisa tersisih karena waktu habis untuk perjalanan, antre, hingga sesi dokumentasi.

Selain itu, bukber juga memunculkan pola pembanding sosial. Ketika unggahan media sosial menampilkan bukber di tempat mahal, sebagian orang merasa perlu “menyamai” agar tidak terlihat berbeda.

Budaya ini menguatkan konsumerisme: belanja bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan citra dan penerimaan sosial.

Strategi Bijak Menahan Konsumtif Tanpa Menghilangkan Kebersamaan

bukber

Ilustrasi: Pexels

Mengelola bukber tidak harus berarti menolak silaturahmi. Kuncinya adalah menata prioritas dan mengembalikan bukber pada substansi.

Pertama, tentukan batas: berapa kali bukber yang realistis dan sehat secara finansial serta waktu.

Membuat anggaran khusus Ramadan dapat membantu mengukur kemampuan tanpa mengganggu kebutuhan pokok.

Kedua, pilih format yang lebih sederhana. Bukber tidak selalu harus di kafe atau restoran.

Alternatif seperti bukber di rumah, di masjid, atau berbagi menu potluck (setiap orang membawa makanan) bisa menjaga kebersamaan tanpa membebani satu pihak.

Ketiga, sepakat soal tujuan: fokus pada obrolan yang bermakna, saling mendoakan, dan menyisihkan waktu untuk ibadah sebelum atau setelah buka.

Keempat, tekan budaya “pamer” secara halus. Dokumentasi tidak dilarang, tetapi jangan menjadi pusat acara.

Jika bukber berujung pada pemborosan, jadikan momentum ini untuk saling mengingatkan dengan cara elegan: memilih tempat terjangkau, memesan secukupnya, dan menghindari tren yang memaksa.

Mengembalikan Ramadan pada Nilai Pengendalian Diri

bukber

Ilustrasi: Pexels

Ramadan menghadirkan latihan spiritual yang menuntun pada pengendalian nafsu, termasuk nafsu konsumsi.

Bukber seharusnya menjadi perpanjangan nilai tersebut: memperkuat hubungan dan kepedulian, bukan sekadar memenuhi selera dan gengsi.

Ketika bukber berubah menjadi perlombaan tempat, menu, dan tampilan, nilai puasa berisiko meredup dalam hiruk-pikuk sosial.

Karena itu, perlu kesadaran kolektif untuk mengubah arah budaya bukber. Bukber yang sehat adalah bukber yang tidak membuat orang lain tertekan, tidak memaksa pengeluaran di luar kemampuan, dan tetap memberi ruang untuk ibadah.

Silaturahmi tetap bisa terjaga, sekaligus Ramadan tetap bermakna sebagai bulan sederhana, reflektif, dan peduli pada sesama.

Penulis: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Dymas Satriagung
Dymas Satriagung Raih Dua Juara di Kompetisi Internasional Malaysia
April 16, 2026By
Kampung Pandan
FPIP Umsida Bawa Pembelajaran Kreatif ke Kampung Pandan Malaysia
April 15, 2026By
Trial College
Trial College di Lab Bahasa Jadi Pengalaman Seru Siswa SMA
April 14, 2026By
PLP 1 2026
Pemberangkatan PLP 1 2026 Diikuti 178 Mahasiswa
April 13, 2026By
Pencak Silat
Deisya Raih Emas di Kejuaraan Pencak Silat Internasional
April 11, 2026By
PPG CAGUR
Koordinasi Pelaksanaan PPG CAGUR 2026
April 10, 2026By
Paku Bumi
Mahasiswi PGPAUD Putri Az Zahrah Sabet Emas di Paku Bumi 2026
April 9, 2026By
Sultan Saladin
Sultan Saladin Dorong Gerakan Mahasiswa Lebih Kritis
April 8, 2026By

Prestasi

Dymas Satriagung
Dymas Satriagung Raih Dua Juara di Kompetisi Internasional Malaysia
April 16, 2026By
Pencak Silat
Deisya Raih Emas di Kejuaraan Pencak Silat Internasional
April 11, 2026By
Paku Bumi
Mahasiswi PGPAUD Putri Az Zahrah Sabet Emas di Paku Bumi 2026
April 9, 2026By
Pencak Silat
Mahasiswi FPIP Raih Juara 1 Pencak Silat Pakubumi Open Championship 2026
April 7, 2026By
Fanny Sabillah
Fanny Sabillah Huda Raih 8 Penghargaan dalam 2,5 Bulan
February 12, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By