Ramadan

Dosen FPIP Jelaskan MengapaI Sering Mood Swing Terjadi Saat Ramadan

fpip.umsida.ac.idRamadan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Islam.

Namun, tidak jarang banyak dari kita merasa lebih mudah kesal, sensitif, atau bahkan tiba-tiba merasa sedih, padahal niat awalnya ingin lebih tenang dan khusyuk beribadah.

Fenomena ini ternyata cukup umum, dan ternyata ada beberapa faktor yang berperan dalam perubahan suasana hati (mood swing) selama Ramadan.

Proses Adaptasi Tubuh dan Psikologis

ramadhan

Ilustrasi: Pexels

Menurut Zaki Nur Fahmawati, MPsi Psikolog selaku dosen dari Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), perubahan suasana hati selama Ramadan sebenarnya merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh dan psikologis terhadap perubahan pola hidup.

Selama bulan suci ini, rutinitas harian kita berubah cukup signifikan.

Waktu makan terbatas hanya pada sahur dan berbuka, aktivitas ibadah bertambah, serta jam tidur yang bergeser. Semua ini menuntut tubuh untuk menyesuaikan diri.

Zaki menekankan bahwa dalam masa adaptasi ini, emosi bisa menjadi kurang stabil.

Perubahan pola makan, berkurangnya waktu tidur, dan penambahan ibadah seperti tarawih atau witir dapat memengaruhi keseimbangan emosi.

Secara kognitif, kemampuan berpikir jernih juga bisa sedikit menurun. Inilah yang menyebabkan seseorang lebih mudah tersinggung atau merespons situasi secara berlebihan.

Zaki menegaskan bahwa ini adalah reaksi alami tubuh terhadap perubahan yang terjadi.

Pengaruh Pola Tidur terhadap Emosi

ramadhan

Ilustrasi: Pexels

Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi kondisi psikologis selama Ramadan adalah perubahan pola tidur.

Bangun sahur lebih pagi, ditambah dengan aktivitas ibadah malam seperti tarawih, dapat mengurangi durasi tidur yang sangat dibutuhkan tubuh.

Jika pola tidur ini tidak diatur dengan baik, hal ini bisa berdampak pada fungsi eksekutif otak.

Zaki menjelaskan bahwa durasi tidur yang berkurang dapat memengaruhi pengambilan keputusan, memori kerja, serta kemampuan kita untuk mengontrol diri dan emosi.

Tidur yang tidak nyenyak (deep sleep) membuat seseorang lebih sulit menahan reaksi emosinya.

Sebuah situasi yang biasanya dianggap biasa saja bisa terasa lebih berat, dan respons yang biasanya tenang bisa berubah menjadi cemas atau berlebihan.

Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa lebih mudah marah, cemas, atau merasa sedih ketika jam tidurnya tidak cukup.

Latihan Pengendalian Diri Selama Ramadan

ramadhan

Ilustrasi: Pexels

Meskipun Ramadan sering kali terasa menantang, Zaki memandangnya sebagai momen yang baik untuk melatih pengendalian diri.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri secara emosional.

Menurut Zaki, Ramadan memberikan kesempatan untuk belajar lebih sabar, tenang, dan menjaga emosi.

Namun, untuk mencapainya, diperlukan langkah-langkah sederhana yang bisa membantu menjaga kestabilan emosional.

Zaki menyarankan beberapa tips untuk tetap tenang selama puasa, antara lain:

  • Mengenali situasi yang dapat memicu emosi dan menghindarinya jika memungkinkan.
  • Menyadari tanda-tanda awal emosi, seperti rasa kesal atau sensasi tidak nyaman di tubuh.
  • Menarik diri sejenak sebelum bereaksi.
  • Mengambil istirahat singkat di siang hari, misalnya tidur 15 menit, untuk memulihkan mood dan fungsi kognitif.
  • Mengatur jadwal tidur malam agar tidak terlalu larut.

Puasa sebenarnya adalah latihan untuk menunda kepuasan diri, baik dalam hal makan, minum, maupun bereaksi secara berlebihan.

Zaki juga menambahkan bahwa jika puasa dijalani dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab, ini bisa berfungsi untuk meningkatkan kesehatan fisik sekaligus kesehatan mental.

Bulan Ramadan membawa banyak tantangan, baik secara fisik maupun psikologis.

Namun, dengan pemahaman yang baik tentang apa yang terjadi dalam tubuh dan pikiran kita, serta dengan cara-cara yang tepat untuk mengelola emosi, kita bisa menjalani bulan suci ini dengan lebih tenang.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai momen untuk melatih pengendalian diri, baik fisik maupun mental.

Penulis: Romadhona S.

Editor: Nabila Wulyandini

Sumber: Zaki Nur Fahmawati, MPsi Psikolog

Bertita Terkini

makanan tradisional
Peran Makanan Tradisional dalam Tradisi Ramadhan 2026
February 25, 2026By
Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Pembekalan PPL
Pembekalan PPL Terbimbing: Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa PPG UMSIDA sebagai Calon Guru Profesional
February 23, 2026By
Pemberangkatan PPL
Pemberangkatan PPL Terbimbing PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026
February 21, 2026By
Reaksi FPIP
Reaksi FPIP Umsida Bekali Mahasiswa dengan Wawasan Digital
February 20, 2026By
Kesehatan Mental
Umsida Edukasi Kesehatan Mental 2026 di SB At Tanzil Selangor
February 19, 2026By
Puasa
Strategi Menjaga Stamina Puasa Sesuai Sunnah Ramadan 1447 H
February 18, 2026By
sekolah
Sekolah Muhammadiyah Diserbu Orang Tua Hingga Sistem Inden
February 17, 2026By

Prestasi

Fanny Sabillah
Fanny Sabillah Huda Raih 8 Penghargaan dalam 2,5 Bulan
February 12, 2026By
Mahasiswi Psikologi Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto
February 5, 2026By
Medali Perunggu
Nata Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Ju-Jitsu Piala Koni Mojokerto 2026
January 30, 2026By
Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru Umsida Raih Juara 2 Medali Perak di Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto
January 29, 2026By
Medali perak
Jehan Aldama Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala Koni
January 24, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By