fpip.umsida.ac.id — Di Ramadan 1447 H, umat Islam di berbagai daerah menjalankan puasa sebagai ibadah yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan kesabaran, pengendalian diri, dan penguatan spiritual.
Tantangannya jelas: aktivitas harian tetap berjalan, sementara asupan energi dibatasi dari fajar hingga magrib. Karena itu, banyak orang mencari cara agar tetap bugar tanpa mengubah puasa menjadi sekadar “uji kuat-kuatan”.
Dalam perspektif sunnah Rasulullah, menjaga stamina puasa tidak bertumpu pada trik instan, melainkan pada kebiasaan sederhana yang konsisten: sahur yang diberkahi, berbuka tepat waktu, pola makan yang tidak berlebihan, akhlak yang terjaga, dan ritme istirahat yang seimbang.
Ketika praktik ini dijalankan dengan niat yang benar, tubuh lebih stabil dan hati lebih tenang, sehingga puasa terasa lebih ringan dan bermakna.
Sahur dan Berbuka Tepat Waktu Kunci Energi Seharian
Sunnah yang paling sering disebut dalam menjaga kekuatan puasa adalah tidak meninggalkan sahur.
Rasulullah menganjurkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan, bukan hanya dari sisi pahala, tetapi juga manfaat praktis bagi fisik.
Sahur menjadi fondasi energi selama puasa, sehingga kualitasnya lebih penting daripada sekadar “asal makan”.
Prinsip yang dapat diterapkan adalah memilih makanan bergizi seimbang: karbohidrat kompleks untuk energi bertahan lebih lama, protein untuk menjaga daya tahan, serat untuk kenyang lebih stabil, serta air putih yang cukup untuk mengurangi risiko lemas dan pusing.
Banyak orang keliru dengan sahur tinggi gula atau terlalu berminyak, karena efeknya cepat: energi naik sebentar lalu turun tajam.
Rasulullah juga mencontohkan mengakhirkan sahur mendekati waktu imsak.
Pola ini membantu tubuh memiliki jeda yang lebih pendek antara makan terakhir dan awal puasa, sehingga rasa lemah biasanya lebih lambat muncul.
Namun, mengakhirkan sahur tidak berarti menunda sampai panik atau terburu-buru; tetap perlu waktu untuk makan dengan tenang dan menyiapkan diri.
Sunnah berikutnya adalah menyegerakan berbuka ketika waktunya tiba. Saat azan magrib berkumandang, dianjurkan membatalkan puasa tanpa menunda-nunda, meski hanya dengan air putih atau kurma.
Kurma dianjurkan karena kandungan gula alaminya cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Setelah itu, makan utama dilakukan secukupnya.
Kebiasaan “balas dendam” saat berbuka justru sering membuat tubuh berat, mengantuk, dan akhirnya sulit beribadah malam.
Menjaga Lisan dan Emosi Agar Puasa Tidak Menguras Tenaga

Stamina puasa tidak hanya urusan kalori, tetapi juga urusan emosi. Banyak orang merasa cepat lemas bukan semata karena kurang makan, melainkan karena energi habis untuk marah, debat, dan stres.
Rasulullah mengingatkan bahwa orang yang berpuasa hendaknya tidak berkata kotor dan tidak bertengkar.
Pesan ini sangat relevan: menjaga lisan dan perilaku berarti menjaga kestabilan mental, dan mental yang stabil berpengaruh langsung pada kondisi fisik.
Dalam praktik sehari-hari, menjaga lisan bisa dimulai dari hal sederhana: menahan komentar impulsif, menghindari adu argumen yang tidak perlu, dan memilih diam ketika emosi sedang naik.
Ini bukan sikap pasif, tetapi strategi sadar agar puasa tidak bocor oleh perilaku yang menguras energi. Ketika hati tenang, tubuh biasanya lebih “hemat” tenaga, fokus lebih terjaga, dan pekerjaan terasa lebih terkendali.
Ketenangan juga diperkuat dengan memperbanyak ibadah dan doa. Membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa memberi efek menstabilkan pikiran.
Puasa pada dasarnya adalah ibadah yang mengarahkan manusia pada fokus batin. Saat fokus itu tercapai, rasa berat di tubuh sering berkurang, karena yang bekerja bukan hanya otot, tetapi juga ketahanan mental.
Pola Makan Sederhana dan Istirahat Seimbang Menopang Produktivitas
Rasulullah mengajarkan hidup sederhana, termasuk dalam konsumsi. Prinsip makan secukupnya membantu tubuh beradaptasi dengan ritme puasa.
Makan terlalu banyak saat sahur atau berbuka sering membuat pencernaan bekerja berat, memicu kantuk, dan membuat badan cepat letih.
Cara paling realistis adalah mengatur porsi dengan bijak: berbuka ringan dulu, beri jeda, lalu makan utama secukupnya. Air putih dicukupkan bertahap, bukan sekaligus, agar tubuh lebih nyaman.
Selain itu, menjaga waktu istirahat menjadi penopang yang sering diabaikan. Rasulullah mencontohkan keseimbangan antara ibadah dan istirahat.
Secara praktis, tidur yang cukup setelah tarawih, bangun tepat untuk sahur, dan bila memungkinkan tidur singkat di siang hari dapat membantu memulihkan energi tanpa mengganggu produktivitas.
Banyak orang tumbang bukan karena puasanya, tetapi karena pola tidurnya berantakan.
Dengan mengikuti sunnah dalam sahur, berbuka, akhlak, dan ritme hidup, puasa tidak hanya menghasilkan ketahanan fisik, tetapi juga ketenangan batin.
Puasa yang dijalani dengan niat tulus, pola makan teratur, serta perilaku yang terjaga akan terasa lebih ringan dan lebih bernilai.
Ramadan akhirnya bukan sekadar menahan, melainkan kesempatan memperbaiki diri secara menyeluruh, jasmani dan rohani.

















