berbuka dengan

Sains di Balik Sunnah Mengapa Berbuka dengan yang Manis Penting bagi Tubuh

fpip.umsida.ac.id — Saat azan magrib berkumandang, banyak Muslim memulai berbuka dengan kurma atau minuman manis. Kebiasaan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bagian dari sunnah.

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah saw biasa berbuka dengan ruthab, lalu tamr, dan jika tidak ada maka dengan air.

Dari sisi sains, pola ini menarik karena tubuh yang telah berpuasa seharian memang membutuhkan asupan yang cepat mengembalikan energi, terutama dari karbohidrat yang diubah menjadi glukosa.

Selama berjam-jam tidak makan dan minum, tubuh memakai cadangan energi untuk menjaga fungsi organ, aktivitas otak, dan kerja otot.

Glukosa dikenal sebagai salah satu sumber bahan bakar utama tubuh, sedangkan karbohidrat adalah sumber yang paling cepat diolah menjadi energi.

Karena itu, saat berbuka, makanan manis dalam jumlah wajar dapat membantu tubuh bertransisi dari kondisi puasa ke kondisi aktif kembali tanpa terasa terlalu berat.

Inilah mengapa anjuran berbuka secara ringan lebih masuk akal dibanding langsung menyantap makanan besar dalam keadaan perut kosong.

Namun, istilah “yang manis” sering disalahpahami. Yang dimaksud bukan tumpukan gula berlebih, minuman sangat manis, atau aneka dessert dalam porsi besar.

Dari sudut gizi, yang lebih tepat adalah sumber manis alami dan sederhana, seperti kurma atau buah, yang memberi gula alami untuk energi awal.

Bahkan sejumlah panduan gizi Ramadan menekankan bahwa berbuka boleh dimulai dengan makanan manis tradisional seperti kurma, tetapi tetap perlu diikuti pola makan seimbang dan tidak berlebihan.

Mengapa Kurma Menjadi Pilihan yang Sangat Masuk Akal?

berbuka dengan

Kurma sering disebut sebagai makanan ideal saat berbuka, dan itu bukan klaim kosong.

Data gizi menunjukkan kurma mengandung karbohidrat alami yang cukup tinggi, serta serat dan mineral seperti kalium.

Kombinasi ini penting: gula alaminya membantu menyediakan energi cepat, sementara seratnya membuat penyerapan tidak sebrutal gula tambahan dari minuman atau camilan ultra-proses.

Kalium juga berperan dalam fungsi sel, saraf, dan keseimbangan cairan tubuh, sesuatu yang relevan setelah seharian berpuasa.

Karena itu, hikmah sunnah berbuka dengan kurma tampak cukup kuat dari sisi fisiologi. Tubuh tidak “dikejutkan” oleh makanan berat lebih dulu, tetapi diberi pengantar energi yang cepat dan praktis.

Dalam konteks modern, logikanya mirip dengan anjuran pada kondisi gula darah rendah, yakni memberikan karbohidrat cepat serap terlebih dahulu sebelum asupan berikutnya.

Bedanya, pada orang yang berpuasa sehat, tujuan utamanya bukan penanganan medis, melainkan pemulihan energi secara bertahap dan nyaman.

Ada alasan lain mengapa kurma lebih unggul dibanding sekadar teh manis berlebih.

Minuman tinggi gula tambahan memang dapat memberi rasa segar sesaat, tetapi tidak selalu memberi nilai gizi sebaik makanan utuh.

Buah utuh seperti kurma membawa paket lengkap: gula alami, serat, serta beberapa mikronutrien.

Itulah sebabnya banyak panduan kesehatan Ramadan tetap mengingatkan agar umat tidak menjadikan momen berbuka sebagai ajang balas dendam makan makanan terlalu manis, terlalu berminyak, dan berlebihan.

Penting Bukan Berarti Harus Berlebihan

Yang paling penting dipahami adalah bahwa sunnah ini berbicara tentang ketepatan, bukan kemewahan.

Berbuka dengan yang manis itu penting karena tubuh memang membutuhkan pasokan energi awal setelah puasa.

Tetapi manfaat itu bisa berubah menjadi masalah bila “manis” diterjemahkan sebagai konsumsi gula berlebihan.

Berbagai panduan kesehatan Ramadan menegaskan bahwa terlalu banyak makanan manis, gorengan, dan porsi besar saat iftar justru dapat memicu rasa lemas, kantuk, gangguan pencernaan, bahkan kenaikan berat badan selama Ramadan.

Maka, pola yang paling masuk akal adalah memulai dengan kurma, buah manis, atau minuman sederhana, lalu memberi jeda sebelum makan utama.

Cara ini sejalan dengan sunnah sekaligus lebih ramah bagi sistem pencernaan.

Setelah itu, tubuh tetap memerlukan makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan cairan cukup agar pemulihan benar-benar optimal, bukan sekadar kenyang sesaat.

Pada akhirnya, sains tidak sedang “membenarkan” sunnah, melainkan membantu menjelaskan hikmah yang sudah lebih dulu diajarkan.

Berbuka dengan yang manis penting bukan karena gula selalu baik, melainkan karena tubuh yang berpuasa membutuhkan energi awal yang cepat, ringan, dan tepat.

Dalam bentuk terbaiknya, sunnah itu bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga mencerminkan kebijaksanaan pola makan: sederhana, bertahap, dan tidak berlebihan.

Bagi orang dengan diabetes atau kondisi medis tertentu, penyesuaian tetap perlu dilakukan bersama tenaga kesehatan.

Penulis: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Mahasiswa PGPAUD
Mahasiswa PGPAUD Umsida Dalami Dunia PAUD Melalui PLP 1
May 12, 2026By
Lemah Putro 1
Mahasiswa Umsida Belajar Pendidikan Inklusif di SDN Lemah Putro 1
May 11, 2026By
PGSD Umsida
PLP 1 PGSD Umsida Ungkap Praktik Pendidikan Kreatif SD Muda
May 9, 2026By
Mahasiswa PGSD
Mahasiswa PGSD Umsida Temukan Kultur Sekolah Inklusif di Mojokerto
May 8, 2026By
SDN Kedungrawan 1
Mahasiswa PGSD Umsida Dalami Peran Guru di SDN Kedungrawan 1
May 7, 2026By
Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026
May 6, 2026By
Videografi Psychoverse
Dua Mahasiswa FPIP Raih Juara Videografi Psychoverse
May 5, 2026By
Mahasiswa S2
Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Umsida Raih Juara di Malaysia
May 4, 2026By

Prestasi

Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026
May 6, 2026By
Videografi Psychoverse
Dua Mahasiswa FPIP Raih Juara Videografi Psychoverse
May 5, 2026By
Mahasiswa S2
Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Umsida Raih Juara di Malaysia
May 4, 2026By
Student Mobility
Mahasiswa S2 Dikdas UMSIDA Raih Penghargaan Paper Terbaik di Program Student Mobility
April 25, 2026By
Dymas Satriagung
Dymas Satriagung Raih Dua Juara di Kompetisi Internasional Malaysia
April 16, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By