fpip.umsida.ac.id — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menunjukkan eksistensinya di bidang nonakademik.
Salah satunya datang dari Deisyah Amalia Rawethi, mahasiswa semester 3 PGSD Umsida yang aktif berprestasi sebagai atlet Tapak Suci Umsida.
Deisyah yang akrab disapa Deisyah ini lahir di Surabaya, 23 Desember 2005. Selain menekuni dunia olahraga pencak silat, ia juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebagai Ketua Divisi Dalam Negeri HIMA PGSD Umsida.
Perannya sebagai mahasiswa sekaligus atlet tidak menghalanginya untuk terus berkembang dan berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi.
Keikutsertaan di UNESA Pencak Silat Challenge Competition III
Kompetisi terbaru yang diikuti Deisyah adalah UNESA Pencak Silat Challenge Competition III.
“Kompetisi yang saya ikuti adalah UNESA Pencak Silat Challenge Competition III yang diselenggarakan oleh PJKR FIKK UNESA pada 18–21 Desember 2025 dan diikuti oleh X mulai dari usia dini hingga Mahasiswa/Dewasa,” ungkapnya.
Ajang tersebut menjadi wadah bergengsi yang mempertemukan atlet dari berbagai kategori usia dengan tingkat persaingan yang cukup ketat.
Persiapan matang menjelang pertandingan
Dalam menghadapi kompetisi tersebut, Deisyah mengaku melakukan persiapan yang cukup matang.
“Persiapan yang saya lakukan cukup matang, mulai dari latihan fisik, teknik, hingga mental. Saya juga menjaga pola makan, istirahat yang cukup, serta fokus pada evaluasi dari pertandingan atau latihan sebelumnya,” jelasnya.
dei juga menuturkan bahwa latihan intens telah dijalani sejak kurang lebih dua bulan sebelum kompetisi, meliputi latihan fisik, teknik, serta sparring atau simulasi pertandingan.
Tantangan di arena dan pentingnya penguasaan mental
Saat pertandingan berlangsung, Deisyah bersyukur dapat melewatinya dengan baik meski menghadapi sejumlah tantangan.
“Selama pertandingan, alhamdulillah berjalan dengan lancar. Beberapa momen memang di luar prediksi, terutama saat menghadapi lawan yang sepertinya memiliki jam terbang yg lebih banyak dibandingkan saya,” ucapnya.
“Meskipun nervous, saya berusaha tetap fokus dan melakukan yg terbaik,” tuturnya.
Tantangan terbesar dalam pertandingan justru terletak pada penguasaan mental.
“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah mental. Seperti yg selalu ditekankan oleh coach saya ketika berlatih, bahwa penguasaan mental memang sepenting itu,” ujarnya.
Ia menyadari bahwa sebaik apa pun teknik dan strategi yang dimiliki, tanpa mental yang kuat performa atlet bisa terpengaruh.
Selain itu, membagi waktu antara kuliah dan latihan, ditambah kondisi cuaca yang kurang bersahabat, juga menjadi tantangan tersendiri baginya.
Di balik perjuangannya, Deisyah mengaku mendapatkan dukungan besar dari berbagai pihak.
“Support dari orang tua, keluarga, pelatih, dan teman-teman sangat luar biasa. Mereka selalu memberi motivasi dan doa,” ucapnya.
“Dari pihak Umsida juga sangat mendukung, baik secara moral maupun fasilitas, sehingga saya bisa fokus berprestasi,” katanya.
Ke depan, Deisyah menargetkan untuk mengikuti turnamen Paku Bumi Open 14 yang rencananya akan digelar pada bulan April.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa Umsida lainnya untuk tidak ragu mengembangkan potensi diri. “Jangan takut mencoba hal baru.
Manfaatkan setiap kesempatan yang ada di Umsida untuk mengembangkan diri,” pungkasnya.
Penulis: Zakhfa
Editor: Nabila Wulyandini














