Kesehatan Mental

Umsida Edukasi Kesehatan Mental 2026 di SB At Tanzil Selangor

fpip.umsida.ac.id — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar edukasi psikologis bagi guru dan peserta didik di SB At-Tanzil Kg Lindungan, Selangor, Malaysia, pada Sabtu (14/02/2026).

Kegiatan bertema Peran Psikolog dalam Mendukung Kesehatan Mental dan Perkembangan Karakter di Lingkungan Pendidikan ini dipimpin oleh Nurfi Laili, MPsi Psikolog, dengan sasaran 15 peserta didik dan tiga guru.

Program tersebut dilaksanakan untuk memperkuat pemahaman kesehatan mental di sekolah sekaligus mempererat kolaborasi lintas negara antara Umsida dan SB At-Tanzil dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Psikologi Bukan Sekadar Masalah tetapi Cara Memahami Diri
Kesehatan Mental

Dalam sesi utama, Nurfi menegaskan bahwa pendekatan psikologi di lingkungan pendidikan tidak seharusnya dipersempit pada isu gangguan saja.

Ia menekankan pentingnya literasi psikologis sebagai bekal memahami diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan sosial yang sehat di sekolah.

“Psikologi bukan hanya berbicara tentang gangguan atau masalah, tetapi tentang bagaimana kita memahami diri sendiri dan orang lain,” ujar Nurfi dosen Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Umsida itu.

Ia menjelaskan bahwa guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari.

Ketika guru memahami aspek emosional siswa, kelas dapat menjadi ruang yang aman secara psikologis, sehingga proses belajar lebih efektif dan siswa berani bertanya, mencoba, serta mengakui kesulitan tanpa takut dihakimi.

Menurutnya, keamanan emosional di kelas bukan “bonus”, melainkan syarat dasar agar pembelajaran berjalan sehat, terutama pada anak-anak yang sedang membentuk karakter.

Siswa Belajar Mengelola Cemas lewat Praktik Sederhana

Kesehatan Mental

Materi untuk peserta didik difokuskan pada kecemasan sebagai pengalaman yang wajar, terutama saat menghadapi ujian, diminta presentasi, atau menjalani hal baru.

Nurfi mengajak peserta memahami bahwa cemas bukan sesuatu yang harus ditutupi, melainkan sinyal tubuh yang bisa dikenali dan dikelola.

“Merasa cemas itu wajar. Semua orang pernah merasakannya. Yang penting adalah bagaimana kita mengenali rasa cemas itu dan belajar mengelolanya dengan cara yang sehat,” jelasnya.

Sesi berjalan interaktif. Peserta diminta mengidentifikasi tanda-tanda kecemasan, mulai dari jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, pikiran terasa penuh, sulit fokus, hingga muncul ketakutan berlebihan.

Pemateri kemudian mengenalkan strategi sederhana seperti teknik pernapasan, menata pikiran lebih rasional, meminta dukungan guru atau orang tua, dan membangun kepercayaan diri melalui latihan bertahap.

Pendekatan ini membuat peserta didik memahami bahwa reaksi tubuh saat tegang adalah respons alami ketika menghadapi tekanan, bukan tanda “lemah”.

Peran Guru Menguatkan Karakter dan Iklim Kelas Empatik

Kesehatan Mental

Pada sesi penguatan guru, Nurfi menekankan bahwa pendidik tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berperan mendampingi perkembangan karakter.

Guru diajak mengenali sinyal kesulitan emosional siswa serta membangun iklim kelas yang suportif melalui bahasa yang tidak menghakimi, umpan balik yang menenangkan, dan kebiasaan memberi ruang aman untuk mencoba.

“Guru bukan hanya pengajar materi, tetapi juga pendamping perkembangan karakter. Ketika guru memahami aspek psikologis siswa, proses belajar akan menjadi lebih efektif dan bermakna,” tambahnya.

Diskusi semakin reflektif ketika peserta didik mulai berbagi pengalaman. Furqon, salah satu siswa, mengaku kerap gugup saat diminta berbicara di depan kelas.

“Saya merasa malu dan gugup kalau disuruh maju ke depan dan berbicara di hadapan teman-teman yang banyak. Kadang jadi takut salah,” ungkapnya.

Nurfi menanggapi bahwa gugup saat tampil adalah bentuk kecemasan yang umum, bahkan pada orang dewasa, dan dapat berkurang dengan latihan bertahap serta dukungan guru yang konsisten.

Kegiatan berlangsung hangat dan partisipatif. Antusiasme terlihat dari keberanian siswa menyampaikan pengalaman dan keterbukaan guru berdialog tentang tantangan pendampingan.

Melalui program ini, Umsida menegaskan komitmennya menghadirkan kontribusi keilmuan yang berdampak langsung, sekaligus memperkuat jejaring pendidikan lintas negara berbasis kepedulian terhadap kesehatan mental dan pembentukan karakter.

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

PLP I
FPIP Umsida Rilis Timeline PLP I 2026 untuk Mahasiswa
March 11, 2026By
berbuka dengan
Sains di Balik Sunnah Mengapa Berbuka dengan yang Manis Penting bagi Tubuh
March 10, 2026By
kajian
IMM Al Khawarizmi Gelar Kajian Keislaman untuk Mahasiswa
March 9, 2026By
Dr Eko
Puasa dan Latihan Mengelola Emosi Menurut Dr Eko
March 7, 2026By
Gerhana Bulan
Gerhana Bulan Total 2026 Ungkap Sains di Balik Blood Moon
March 6, 2026By
Mahasiswa
Strategi Mahasiswa Tetap Produktif Saat Puasa Ramadan
March 4, 2026By
bukber
Bukber dan Budaya Konsumtif Dibulan Ramadan 2026
March 3, 2026By
Koding dan
Workshop Koding dan AI PTI Latih Mahasiswa Cipta Game Edukasi
March 2, 2026By

Prestasi

Fanny Sabillah
Fanny Sabillah Huda Raih 8 Penghargaan dalam 2,5 Bulan
February 12, 2026By
Mahasiswi Psikologi Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto
February 5, 2026By
Medali Perunggu
Nata Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Ju-Jitsu Piala Koni Mojokerto 2026
January 30, 2026By
Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru Umsida Raih Juara 2 Medali Perak di Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto
January 29, 2026By
Medali perak
Jehan Aldama Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala Koni
January 24, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By