peer teaching

Pelatihan Koding KA In 2 2025 Berlanjut di Umsida, Peserta Rampungkan Materi Peer Teaching

fpip.umsida.ac.id — Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) In Two kembali dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program KKA On Two yang sebelumnya telah dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 1 Candi dan SMA Negeri 2 Sidoarjo.

Pelatihan berlangsung selama dua hari, yaitu pada 18–19 November 2025, bertempat di ruang kelas 703 GKB 3 Kampus 1 Umsida.

Pada pelatihan kali ini, kegiatan berfokus pada empat komponen utama penilaian, yakni evaluasi penyelenggaraan, presentasi praktik baik, penyelesaian tugas-tugas yang belum diselesaikan (termasuk peer teaching), serta penyusunan rencana tindak lanjut.

Untuk kelas SMP A, kegiatan difasilitator oleh Fitria Nur Hasanah MPd. dan Dr Rahmania Sri Untari, MPd di mana hari pertama diarahkan untuk menyelesaikan tugas peer teaching bagi peserta yang belum mendapat kesempatan pada pertemuan sebelumnya.

 Kecerdasan Artifisial dalam Sesi Peer Teaching

peer teaching

 

Pada hari pertama pelaksanaan kegiatan, peserta yang bertugas melaksanakan peer teaching adalah Muhammad Adi Setiawan.

Ia menyampaikan materi mengenai Coding dan Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai lanjutan dari pembelajaran sebelumnya.

Dalam pemaparannya, Adi menjelaskan bahwa koding merupakan kemampuan dasar dalam dunia teknologi modern.

Adi menyampaikan, “Koding adalah proses menulis instruksi agar komputer dapat melaksanakan tugas tertentu. Dengan kemampuan koding, kita bisa menciptakan berbagai aplikasi yang mempermudah kehidupan sehari-hari.”

Penjelasan tersebut kemudian ia lanjutkan dengan mengenalkan konsep kecerdasan artifisial.

Adi menggambarkan AI sebagai teknologi yang dapat meniru dan beradaptasi layaknya manusia.

Dalam narasinya, ia memberikan berbagai contoh penerapan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Adi, AI telah hadir dalam bentuk aplikasi pintar yang membantu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat, aplikasi produktivitas yang meningkatkan efisiensi kerja, hingga layanan navigasi seperti Google Maps yang mempermudah perjalanan harian.

Ia juga memaparkan bahwa aplikasi belanja online telah memanfaatkan AI untuk mengelola sistem transaksi secara otomatis tanpa menimbulkan kerumunan.

Tidak hanya itu, Adi juga menyoroti peran AI dalam bidang kesehatan, yaitu kemampuan teknologi dalam membantu memantau kondisi tubuh secara real time dan lebih akurat.

Pada ranah pemerintahan, ia menjelaskan bagaimana AI diterapkan dalam sistem pelayanan administrasi, seperti proses pembuatan KTP melalui aplikasi Dukcapil yang kini semakin cepat dan efisien.

Pada bagian kreativitas, Adi memaparkan bahwa AI membuka peluang besar dalam pembuatan animasi, pengembangan game, hingga penyusunan cerita storytelling.

Dalam sesi penyampaiannya, ia menegaskan, “AI bukan hanya soal otomatisasi, tetapi juga kreativitas. Kita bisa membuat animasi, game, bahkan cerita interaktif dengan bantuan teknologi ini.”

Namun, sebagai penyeimbang, Adi tidak hanya membahas keunggulan AI. Ia juga menyampaikan dampak positif dan negatif secara objektif.

Pada sisi positif, AI membantu meningkatkan efisiensi kerja, terutama dalam diagnosis medis dan prediksi cuaca yang semakin akurat.

Sementara itu, sisi negatifnya antara lain risiko hilangnya pekerjaan manual seperti kasir serta bertambahnya kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan data.

Perkembangan AI terhadap Berbagai Aspek Kehidupan

peer teaching

Setelah menjelaskan konsep dasar coding dan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam kehidupan sehari-hari, Adi melanjutkan materinya dengan membahas dampak positif dan negatif dari perkembangan AI.

Ia menegaskan bahwa teknologi AI tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai sistem cerdas yang mampu bekerja secara mandiri dalam berbagai situasi.

Dalam penjelasannya, Adi menyampaikan bahwa salah satu dampak positif AI adalah kemampuannya meningkatkan efisiensi kerja di berbagai bidang yang memerlukan ketelitian tinggi.

Ia mencontohkan bagaimana AI kini digunakan dalam proses diagnosis medis dengan analisis data yang lebih cepat serta mendukung lembaga meteorologi dalam memperkirakan cuaca dengan akurasi yang semakin baik.

Adi mengatakan, “AI dapat memproses data dalam jumlah besar dengan cepat dan akurat, sehingga sangat membantu dalam diagnosis medis dan perkiraan cuaca yang membutuhkan analisis mendalam.”

Namun, Adi juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi tidak lepas dari dampak negatif.

Ia menyoroti bahwa pekerjaan manual yang bersifat berulang memiliki risiko besar untuk tergantikan oleh sistem otomatis berbasis AI.

Pekerjaan seperti kasir, operator dasar, dan beberapa peran administrasi menjadi rentan terhadap otomatisasi.

Adi menyampaikan juga menyampaikan “Meski AI membawa banyak manfaat, kita juga harus sadar bahwa beberapa pekerjaan manual berpotensi tergantikan. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan kerja bagi sebagian masyarakat.”

Adi kemudian menegaskan bahwa tantangan tersebut bukan berarti AI harus ditolak, tetapi justru menjadi dorongan bagi manusia untuk terus meningkatkan kemampuan, terutama keterampilan digital, pemecahan masalah, dan kreativitas kompetensi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Setelah penyampaian materi selesai, Dr Rahmania Sri Untari MPd memberikan penilaian dan refleksi terhadap proses peer teaching yang dilakukan peserta.

Dalam narasinya, Bu Rahma menyampaikan bahwa peserta sebenarnya telah memahami materi dengan cukup baik, tetapi masih perlu meningkatkan cara penyampaiannya agar lebih natural dan terstruktur.

Ia juga menyoroti bagaimana peserta perlu lebih percaya diri saat tampil di depan kelas.

Rahmania Sri Untari menyampaikan “Peer teaching praktik mengajar tadi masih terlihat agak canggung dan kurang interaktif dengan audiens. Cobalah untuk menganggap audiens sebagai teman sebaya supaya penyampaian terasa lebih natural.”

Beliau juga menyampaikan  “Refleksi belum disampaikan, padahal itu bagian penting dari proses pembelajaran. Mungkin bisa diselingi dengan ice breaking agar suasana lebih hidup. Selain itu, beberapa peserta melewati batas waktu, seharusnya hanya 15 menit.” Ujarnya

Penulis: Anggita Ayu Pertiwi

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Program Magang
Moch. Jakariyah Berhasil Lolos untuk Program Magang Internasional di Thailand
January 23, 2026By
pendidikan ipa
Promotion to School Pendidikan IPA Umsida Sebagai Strategi Membangun Minat Siswa SMA
January 21, 2026By
kemanusiaan
Bramasgana Umsida Kirim Relawan untuk Aksi Kemanusiaan di Aceh Tamiang
January 20, 2026By
pembuatan
Mahasiswa Pgpaud Umsida dalam Pembuatan Alat Permainan Edukatif
January 19, 2026By
Pelantikan Akbar
Pelantikan Akbar IMM Umsida Perkuat Peran Mahasiswa Indonesia
January 17, 2026By
bahasa inggris
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Umsida: Mencetak Pendidik Global Berkarakter Islami dan Berdaya Saing Internasional
January 16, 2026By
Realisasi Syahadatain Teguhkan Ideologi Kader IMM Al-Khawarismi
January 15, 2026By
Apresiasi
Wujud Apresiasi Karya pada Pameran Lukisan Mahasiswa PGSD
January 14, 2026By

Prestasi

Program Magang
Moch. Jakariyah Berhasil Lolos untuk Program Magang Internasional di Thailand
January 23, 2026By
raih juara
Zulfan Riyanto Mahasiswa PGSD Umsida Raih Juara 1 di Kejuaraan Pencak Silat UNESA
January 7, 2026By
unesa
Mahasiswi PGSD Umsida Torehkan Prestasi di UPSCC III 2025 UNESA
January 6, 2026By
pencak silat
Putri Az Zahrah Raih Perak Pencak Silat UPSCC III 2025
January 5, 2026By
UPSCC III
Anaa Raih Perunggu Tanding Kelas C di UPSCC III 2025 UNESA
January 3, 2026By

Riset dan Inovasi

Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By
literasi
Wisata Literasi Virtual Reality (VR) Ramah Difabel Hadir sebagai Inovasi dari PTI Umsida
January 7, 2025By