fpip.umsida.ac.id — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menerima kunjungan silaturahmi dan benchmarking dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui FKIP di SD Muhammadiyah 1 Candi (SD Mica) sebagai Labschool Umsida, Jumat 23 Januari 2026.
Dari sudut pandang kami di Umsida, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi momentum strategis untuk memperkuat jejaring antar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pendidikan.
Kehadiran rombongan UMS menunjukkan bahwa model lab school dan tata kelola sekolah dasar di lingkungan Umsida semakin dipercaya sebagai rujukan.
Kami melihat kebutuhan UMS menyiapkan lab school sebagai peluang sinergi, karena penguatan pendidikan dasar akan lebih efektif jika dibangun melalui berbagi pengalaman, standar mutu, dan praktik pengelolaan yang terukur.
Umsida Menegaskan Prinsip Saling Belajar Tanpa Menggurui
Rombongan UMS dipimpin Prof Dr Anam Sutopo MHum, dan kami sambut melalui Dekan FPIP Umsida Dr Septi Budi Sartika MPd.
Dalam forum penerimaan, Umsida menekankan bahwa semangat utama kegiatan ini adalah saling belajar.
Dr. Septi menyampaikan pesan yang tegas namun hangat bahwa ruang kolaborasi antarkampus Muhammadiyah tidak boleh berangkat dari logika “siapa yang paling benar”, melainkan dari kesediaan berbagi praktik baik sesuai konteks masing-masing.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Kami sangat senang dan berharap ke depan ada ruang saling berbagi, tidak untuk saling menggurui.” ujarnya.
“karena Bapak/Ibu semua adalah guru kami juga. Kami mohon maaf apabila selama kunjungan terdapat kekurangan. Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan,” ujarnya.
Dari sisi kami, pernyataan ini penting untuk menjaga etika kolaborasi, sekaligus menegaskan karakter pendidikan Muhammadiyah yang tumbuh lewat kerja kolektif.
SD Mica Menjadi Bukti Arah Labschool Umsida yang Inklusif dan Bermutu

Dalam sesi benchmarking, UMS menyampaikan bahwa proses perizinan lab school mereka telah mencapai sekitar 90 persen dari total 19 persyaratan.
Fokus kunjungan diarahkan untuk mempelajari struktur organisasi, tata kelola internal-eksternal, hingga capaian SD Mica.
Kami menilai ini relevan, karena model labschool tidak hanya soal gedung dan legalitas, tetapi soal sistem: budaya mutu, kurikulum, manajemen SDM, serta kemampuan sekolah merespons kebutuhan peserta didik yang beragam.
Kepala Sekolah SD Mica Pristiandi Teguh Cahya, S.Pd., M.PSDM, memaparkan perjalanan SD Mica sejak 2018, dari 10 siswa hingga berkembang menjadi rujukan sekolah inklusi.
“SD Mica berdiri tahun 2018 dengan 10 siswa. Sejak 2022 kami menempati gedung baru dengan visi besar menjadi Sekolah Percontohan Nasional 2028. Alhamdulillah, pada 2026 ini kami sudah mencapai predikat tersebut,” ungkapnya.
Bagi kami di Umsida, capaian ini semakin kuat karena ditopang komitmen inklusi. SD Mica saat ini mendampingi sekitar 60 siswa berkebutuhan khusus, termasuk Down syndrome dan ADHD, yang belajar dalam sistem reguler.
Dari sisi mutu, SD Mica meraih Akreditasi A pada akreditasi pertama dan ditetapkan sebagai Sekolah Unggul Nasional versi Muhammadiyah, dengan kurikulum integratif yang memadukan kurikulum nasional dan Ismuba.
Melalui kunjungan ini, Umsida berharap sinergi dengan UMS tidak berhenti pada studi banding, tetapi berlanjut pada kolaborasi penguatan sistem lab school yang unggul, inklusif, dan berdampak nyata bagi pendidikan Muhammadiyah.
Penulis: Nabila Wulyandini
















