Dr Eko

Puasa dan Latihan Mengelola Emosi Menurut Dr Eko

fpip.umsida.ac.id — Bulan Ramadan kerap dipahami sebagai waktu untuk menahan lapar dan dahaga.

Namun di balik itu, Ramadan juga menjadi ruang latihan untuk mengelola emosi, menjaga kesabaran, dan memperkuat kendali diri.

Dalam keseharian, rasa lelah, perubahan jam tidur, dan padatnya aktivitas sering membuat seseorang menjadi lebih mudah tersinggung saat berpuasa.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Eko Hardi Ansyah MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar.

Menurutnya, puasa memang membawa perubahan biologis dan psikologis yang dapat memengaruhi kestabilan emosi seseorang.

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kemampuan kita mengendalikan emosi,” ujarnya.

Kondisi Fisik Membuat Emosi Lebih Mudah Terpicu

dr eko

Ilusrasi: Unsplash

Dr Eko menjelaskan bahwa orang yang berpuasa dapat menjadi lebih sensitif secara emosional karena tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama.

Saat kadar gula darah menurun, kemampuan tubuh untuk menjaga kestabilan respons juga ikut terpengaruh.

Akibatnya, otak menjadi lebih peka terhadap gangguan dan seseorang lebih mudah tersulut.

Selain itu, perubahan pola tidur selama Ramadan juga berperan dalam memengaruhi suasana hati.

Waktu istirahat yang bergeser karena sahur, ibadah malam, dan aktivitas harian dapat membuat tubuh mengalami kelelahan.

Kondisi inilah yang kemudian membuat emosi menjadi lebih mudah muncul.

Menurutnya, hal semacam ini sering tampak pada anak-anak yang baru belajar berpuasa.

Namun pada orang dewasa, seharusnya ada kapasitas berpikir yang lebih matang untuk memahami makna puasa dan tujuan ibadah yang sedang dijalankan.

Kesadaran itulah yang semestinya menjadi bekal untuk tidak mudah larut dalam amarah.

Kesadaran Diri Jadi Kunci Mengendalikan Marah

Lebih lanjut, Dr Eko menegaskan bahwa emosi bukan sesuatu yang harus dimusuhi.

Emosi justru perlu dikenali sebagai sinyal yang memberi tahu bahwa tubuh dan pikiran sedang berada dalam kondisi tertentu.

Saat marah muncul, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa keadaan itu bisa jadi dipengaruhi rasa lapar, lelah, atau kurang istirahat.

Setelah mengenali kondisi tersebut, seseorang perlu mengambil jeda sebelum merespons. Cara sederhana seperti menarik napas perlahan, menenangkan tubuh, dan menunda reaksi dapat membantu mencegah ledakan emosi.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW juga telah memberi teladan dengan menganjurkan orang yang marah untuk mengubah posisi, seperti dari berdiri menjadi duduk atau berbaring.

Dr Eko juga menekankan pentingnya mengubah sudut pandang. Daripada langsung menyalahkan orang lain, seseorang bisa terlebih dahulu memahami bahwa dirinya sedang tidak dalam kondisi fisik terbaik.

Dalam konteks spiritual, sikap ini dapat diperkuat dengan mengembalikan persoalan kepada Allah SWT serta meyakini bahwa setiap keadaan mengandung hikmah terbaik.

Ramadan Menjadi Latihan Karakter Jangka Panjang

dr eko

Ilusrasi: Unsplash

Menurut Dr Eko, kebiasaan menahan amarah selama Ramadan memberi dampak positif bagi otak.

Bagian otak yang berkaitan dengan emosi dapat dilatih melalui pengendalian diri yang dilakukan berulang kali.

Ia menjelaskan bahwa otak memiliki kemampuan neuroplastisitas, yaitu kemampuan membentuk dan memperkuat koneksi saraf dari pengalaman yang terus diulang.

“Ketika seseorang berulang kali menahan emosi, otak akan belajar membentuk pola regulasi emosi yang lebih baik,” jelasnya.

Ia mengibaratkan proses itu seperti otot yang semakin kuat karena terus dilatih. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya latihan ibadah sesaat, tetapi juga proses pembentukan karakter yang lebih matang secara emosional dan spiritual.

Tujuan akhirnya sejalan dengan makna puasa dalam Al-Qur’an, yaitu agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.

Dr Eko mengingatkan bahwa latihan ini seharusnya tidak berhenti setelah Ramadan berakhir.

Kebiasaan seperti puasa sunnah, dzikir, refleksi harian, dan membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi perlu terus dijaga.

Dengan konsistensi itulah, regulasi emosi tidak lagi menjadi kebiasaan musiman, melainkan bagian dari karakter seorang hamba yang lebih sabar, bersyukur, dan dekat kepada Allah.

Sumber: Dr Eko Hardi Ansyah MPsi Psikolog

Penulis: Romadhona S.

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Gerhana Bulan
Gerhana Bulan Total 2026 Ungkap Sains di Balik Blood Moon
March 6, 2026By
Mahasiswa
Strategi Mahasiswa Tetap Produktif Saat Puasa Ramadan
March 4, 2026By
bukber
Bukber dan Budaya Konsumtif Dibulan Ramadan 2026
March 3, 2026By
Koding dan
Workshop Koding dan AI PTI Latih Mahasiswa Cipta Game Edukasi
March 2, 2026By
IMM Ar-Razi Gelar Kajian Ramadhan dan Pembagian Takjil di Tanggulangin
February 28, 2026By
Research Gap
Dosen FPIP Bahas Pentingnya Identifikasi Research Gap di Filipina
February 27, 2026By
Ramadan
Dosen FPIP Jelaskan Mengapa Sering Mood Swing Terjadi Saat Ramadan
February 26, 2026By
makanan tradisional
Peran Makanan Tradisional dalam Tradisi Ramadhan 2026
February 25, 2026By

Prestasi

Fanny Sabillah
Fanny Sabillah Huda Raih 8 Penghargaan dalam 2,5 Bulan
February 12, 2026By
Mahasiswi Psikologi Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto
February 5, 2026By
Medali Perunggu
Nata Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Ju-Jitsu Piala Koni Mojokerto 2026
January 30, 2026By
Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru Umsida Raih Juara 2 Medali Perak di Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto
January 29, 2026By
Medali perak
Jehan Aldama Raih Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala Koni
January 24, 2026By

Riset dan Inovasi

Grooming
Pencegahan dan Dampak Child Grooming dalam Kehidupan Sosial
February 24, 2026By
Psikologi Al-Fatihah
Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo
August 20, 2025By
buku
Dosen PG Paud Ciptakan Buku Ajar, Musik Mampu Tingkatkan Kecerdasan Anak Usia Dini
February 5, 2025By