fpip.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) menggelar workshop bertema “Kebijakan Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial” pada Selasa, 20 Januari 2026 di Laboratorium Multimedia, Gedung Laboratorium Kampus 3.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat namun tetap akademis, diikuti oleh mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari upaya strategis peningkatan kompetensi teknologi pendidikan.
Workshop menghadirkan Elvandri Solina Astandi, S.Pd sebagai narasumber, serta dihadiri Kaprodi PTI Fitria Nur Hasanah, M.Pd bersama dosen Akbar Wiguna, M.Pd dan Rahmania Sri Untari, M.Pd.
Dalam sambutannya, Kaprodi PTI menegaskan bahwa workshop ini tidak sekadar agenda rutin, melainkan langkah nyata untuk membekali mahasiswa agar mampu memahami sekaligus menerapkan koding dan AI secara bijak.
Ia menekankan pentingnya kesiapan kompetensi, etika, dan tanggung jawab dalam integrasi AI di pembelajaran.
Harapannya, mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan teknologi secara bertanggung jawab sebagai calon pendidik.
AI dalam Perspektif Kritis untuk Literasi Digital
Memasuki sesi materi, narasumber mengajak peserta berpikir kritis lewat aktivitas identifikasi visual.
Elvandri menampilkan beberapa gambar sebagian hasil AI dan sebagian gambar nyata lalu meminta peserta menganalisis perbedaannya.
Diskusi berlangsung hidup karena mahasiswa harus mengamati detail dan menyusun argumen sebelum mengambil kesimpulan.
Dari latihan tersebut, Elvandri menegaskan bahwa literasi digital menjadi kebutuhan mendasar bagi calon pendidik.
Kemampuan memakai teknologi saja tidak cukup, karena guru juga harus memahami dampak, risiko, dan potensi penyalahgunaan teknologi di ruang belajar.
Ia menyampaikan bahwa AI dapat membantu membuat pembelajaran lebih interaktif mulai dari penyusunan skenario pembelajaran, pembuatan ilustrasi materi, hingga rancangan kuis yang melibatkan siswa secara aktif.
Dalam pemaparannya, ia juga mengenalkan pemanfaatan Google AI Studio untuk menyusun konsep berbasis prompt, serta beberapa platform AI lain yang relevan untuk produksi konten visual dan media pembelajaran digital.
Meski demikian, ia menegaskan batas penting: AI adalah alat bantu, bukan pengganti guru. Kreativitas, keputusan pedagogis, dan tanggung jawab tetap berada pada pendidik.
Praktik Scratch untuk Game Edukasi Sederhana dan Interaktif
Workshop kemudian berlanjut pada sesi praktik pembuatan game edukasi sederhana.
Mahasiswa diarahkan untuk menyusun ide menggunakan bantuan AI, lalu mengimplementasikannya melalui Scratch.
Suasana laboratorium menjadi lebih aktif: peserta berdiskusi, menyusun alur permainan, mengatur mekanisme kuis atau petualangan edukatif, serta mengeksplorasi fitur yang tersedia.
Narasumber mendampingi tiap kelompok secara langsung, memastikan ide yang dibuat tetap realistis dan dapat diwujudkan dalam format game sederhana.
Ia mendorong mahasiswa memulai dari konsep yang mudah, seperti game kuis, tebak gambar, atau petualangan berbasis materi pelajaran, sambil menegaskan bahwa AI hanya membantu merancang konsep sedangkan logika permainan harus disusun oleh mahasiswa sendiri.
Melalui praktik ini, peserta tidak hanya memahami kebijakan pembelajaran koding dan AI dalam ranah teori, tetapi juga mengalami proses kreatif dalam mengolah teknologi menjadi media belajar yang inovatif.
Workshop ini menjadi langkah konkret Prodi PTI dalam menyiapkan calon pendidik yang melek teknologi, berpikir kritis, dan mampu menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna serta interaktif.
Penulis: Anggita
Editor: Nabila Wulyandini

















