fpip.umsida.ac.id — Brigadir Relawan Mahasiswa Tanggap Bencana (Bramasgana) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan dengan mengirimkan 10 mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menjadi relawan ke Kabupaten Aceh Tamiang, wilayah yang baru saja terdampak bencana.
Misi kemanusiaan ini berfokus pada dua program utama: pendampingan psikososial dan penyelenggaraan sekolah darurat untuk membantu memulihkan kehidupan masyarakat, terutama anak-anak yang terdampak.
Pelepasan Relawan dan Harapan Pimpinan UMSIDA
Pelepasan relawan dilakukan pada 14 Januari 2026 dan dipimpin langsung oleh Rektor UMSIDA, Dr Hidayatulloh MSi.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor menekankan pentingnya menjaga etika relawan dan keselamatan tim di lapangan.
Ia mengingatkan bahwa bekerja di wilayah bencana membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kemampuan beradaptasi dengan situasi darurat.
“Ini adalah bagian dari misi Muhammadiyah untuk memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta. Ketika ada wilayah yang membutuhkan perhatian serius, Muhammadiyah akan hadir,” ujar Rektor.
Selain Rektor, Wakil Rektor III, Nurdyansyah, Ketua KLL Lazismu UMSIDA, Kumara Adji Kusuma, serta Ketua Bramasgana UMSIDA, Ghozali Rusyid Afandi, turut hadir dalam kegiatan pelepasan.
Mereka semua memberikan dukungan penuh terhadap misi relawan, yang membawa nama UMSIDA sekaligus Muhammadiyah.
“Yang dibangun adalah ego komunal, bukan ego sektoral,” tambah Rektor, menegaskan pentingnya kerjasama tim dalam menjalankan misi kemanusiaan ini.
Fokus Pendampingan di Dua Desa Terdampak Bencana
Setelah tiba di lokasi, Bramasgana langsung memusatkan aktivitas di dua desa, yaitu Desa Seba dan Desa Sunting, yang tercatat memiliki jumlah kepala keluarga (KK) yang signifikan.
Di Desa Seba, pendampingan dilakukan di tiga dusun: Serba Dalam, Alur Hitam, dan Serba Luar, yang mencakup 205 KK.
Sementara di Desa Sunting, kegiatan berfokus pada Dusun Anggrek, Melati, dan Tanjung dengan 235 KK.
Pendampingan ini sangat penting mengingat kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu yang sangat membutuhkan perhatian ekstra untuk pemulihan pascabencana.
Program psikososial yang dilaksanakan di kedua desa ini bertujuan untuk membantu masyarakat mengatasi dampak emosional pascabencana.
Melalui dukungan psikologis awal, aktivitas kelompok, permainan edukatif, dan penguatan peran keluarga, diharapkan dapat mengurangi kecemasan dan membangun kembali rasa optimisme dalam masyarakat.
Program ini dipimpin oleh Eko Hardiansyah yang berpengalaman dalam bidang pendampingan psikososial.
Sekolah Darurat untuk Pemulihan Pendidikan Anak
Selain pendampingan psikososial, Bramasgana juga mengadakan program sekolah darurat untuk memulihkan layanan pendidikan anak-anak.
Mengingat banyaknya sekolah yang terdampak, sekolah darurat ini bertujuan untuk memastikan proses belajar tetap berlangsung di tengah situasi kedaruratan.
Sekolah darurat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar sementara, tetapi juga sebagai sarana pemulihan psikologis bagi anak-anak.
Program sekolah darurat ini dilaksanakan di beberapa titik lokasi, seperti MA Swasta Al Hikmah Sunting, TK Serba Ceria, MI Swasta Sunting, SDN Sunting, TK Sunting, serta MTs Swasta Sunting, dengan melibatkan ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Pendampingan ini disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan masing-masing sekolah.
Kolaborasi dengan MDMC dan Dukungan Lazismu UMSIDA
Dalam pelaksanaannya, Bramasgana bekerja sama dengan MDMC PWM Jawa Timur yang sudah lebih dahulu berada di lokasi bencana.
Kolaborasi ini memperkuat koordinasi antarrelawan, memastikan pembagian peran yang jelas, serta mengoptimalkan efektivitas program agar berjalan terstruktur dan tidak tumpang tindih.
Kegiatan kemanusiaan ini juga didukung penuh oleh KLL Lazismu UMSIDA, yang menyediakan operasional untuk relawan serta memastikan keberlanjutan program psikososial dan sekolah darurat di lokasi bencana.
Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan program ini dapat memberikan dampak positif yang besar bagi masyarakat Aceh Tamiang, khususnya dalam memulihkan kondisi psikologis dan pendidikan anak-anak yang terdampak bencana.
Penulis: Nabila Wulyandini

















