fpip.umsida.ac.id — Mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Erlyn Ananda Nur Rohmah atau akrab disapa Anaa, berhasil membawa pulang medali perunggu (Juara 3) pada ajang UNESA Pencak Silat Challenge Competition (UPSCC) III 2025.
Anaa turun di nomor tanding dewasa putri kelas C dalam kompetisi yang berlangsung pada 18–21 Desember 2025 di GOR Internasional UNESA, Surabaya, dan diselenggarakan oleh PJKR FIKK UNESA.
Anaa yang lahir di Sidoarjo, 29 Oktober, saat ini tercatat sebagai mahasiswa PGSD semester 1. Di kampus, ia aktif mengikuti Tapak Suci serta bergabung dalam komunitas SQC (Sahabat Qurani Community).
Menurutnya, UPSCC III 2025 menjadi pengalaman kompetisi yang menuntut atlet untuk cepat beradaptasi.
“Kompetisi UPSCC ini sangat luar biasa. Banyak peraturan-peraturan baru, jadi kita sebagai atlet harus menyesuaikan dan beradaptasi,” ujar Anaa.
Ia juga menilai atmosfer pertandingan terasa ramai karena peserta datang dari banyak jenjang pendidikan.
“Keadaannya juga ramai karena dihadiri dari berbagai sekolah, mulai dari SD sampai jenjang perguruan tinggi,” tambahnya.
Aturan Baru dan Tekanan Mental di Gelanggang
Anaa mengakui pertandingan tidak sepenuhnya berjalan mulus seperti yang ia bayangkan. Ada fase ketika mentalnya sempat goyah sehingga memengaruhi fokus saat bertanding.
“Nggak sepenuhnya berjalan sesuai prediksi. Ada momen di mana takut itu membuat semua jadi kacau dan bikin gafokus,” ungkapnya.
Rasa takut menjadi tantangan terbesar, terutama ketika menghadapi lawan yang dinilai lebih matang jam terbangnya.
“Tantangannya yang pertama yakni rasa takut, dan berpikir kalau musuhnya lebih berpengalaman,” kata Anaa.
Lihat Juga: Mahasiswi Umsida Nabilla Maulidia Sari Ukir Prestasi Pencak Silat di Ajang UPSCC 3
Meski begitu, ia mencoba mengubah tekanan itu menjadi pemicu untuk tetap bertahan dan menyelesaikan pertandingan dengan maksimal.
Capaian perunggu yang diraih Anaa menjadi bukti bahwa mahasiswa semester awal pun bisa bersaing di event besar, asalkan berani masuk arena dan menghadapi ketakutan yang sering kali muncul sebelum pertandingan.
Latihan Intensif dan Target Kejuaraan Berikutnya
Persiapan Anaa tidak instan. Ia menyebut prosesnya memakan waktu berbulan-bulan untuk mematangkan teknik dan kesiapan bertanding.
“Persiapannya cukup panjang, perlu berbulan-bulan untuk mengasah teknik-teknik dalam bertanding,” jelasnya.
Ia juga menjalani latihan intensif selama dua bulan menjelang hari H, mencakup aspek fisik dan teknik.
“Latihannya 2 bulan sebelum hari H, seperti melatih fisik, belajar teknik pukulan, tendangan, cara menghindar, menangkap, menangkis, dan teknik bantingan,” tuturnya.
Dukungan keluarga dan pelatih menjadi penopang penting dalam perjalanan prestasinya.
“Orang tua selalu memberi semangat. Kata ibu, apapun hasilnya juara berapapun harus bersyukur dan menerima dengan hati yang lapang,” ucap Anaa.
Ia juga menegaskan peran coach yang membuatnya lebih yakin.
Lihat Juga: Ikmal Syarif Petik Pelajaran di UPSSC III 2025 UNESA
“Coach selalu menyemangati dan membuat saya yakin kalau saya bisa di bidang fighter. Untuk Umsida sangat mendorong saya untuk berprestasi dan selalu mengapresiasi,” katanya.
Setelah UPSCC III 2025, Anaa bersiap menatap event berikutnya. “InsyaAllah ada di Paku Bumi yang tempatnya di Yogyakarta,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan bagi mahasiswa lain agar tidak ragu mencoba kompetisi.
“Jangan takut buat mencoba, kalian harus berani melatih mental dan mengikuti event-event apapun itu, percaya sama kemampuan diri sendiri. Tetap semangat, teruslah berproses dan jangan pernah minder,” pungkas Anaa.
Penulis: Nabila Wulyandini















