fpip.umsida.ac.id — Workshop Pembelajaran Mendalam Melalui Budaya Lokal Kuatkan Karakter Bangsa yang digelar Himpaudi Kabupaten Sidoarjo berlangsung Sabtu, 31 Januari 2026 pukul 08.00–15.00 WIB di Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Aula Nyai Walidah Auditorium, GKB 7.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Himpaudi Sidoarjo, PGPAUD UMSIDA, dan Penerbit Erlangga untuk memberi bekal kepada pendidik PAUD agar mampu menerapkan pembelajaran mendalam yang menyenangkan, berakar pada budaya, dan menguatkan karakter.
Acara dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Himpaudi. Workshop diikuti 1.006 peserta Laskar Himpaudi, dengan 250 peserta dari daerah taman sebagai peserta terbanyak.
Sejak awal, panitia menegaskan bahwa budaya Sidoarjo dipilih karena kekayaan tradisinya dapat menjadi pondasi kuat membangun bangsa bukan sekadar untuk dipelajari, tetapi untuk dihayati dan diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari di satuan PAUD.
Dihadiri Tokoh Himpaudi, Dinas, Umsida, dan Mitra Penerbit

Kegiatan dipimpin Ketua Himpaudi Sidoarjo Reny Mey Renty dan dihadiri Ketua Umum PP Himpaudi Betti Nuraini (Popo Betti).
Hadir pula Kabid Mutu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Lilik Sulistyowati.
Dari unsur kampus, turut mendampingi Dekan FPIP Septi Budi Sartika, sementara dari mitra penerbit hadir Kepala Cabang Penerbit Erlangga, Ashari beserta tim, bersama seluruh Laskar Himpaudi sebagai peserta utama.
Budaya Sidoarjo Dihidupkan Bukan Sekadar Diajarkan

Pemilihan budaya Sidoarjo dalam workshop ini ditegaskan sebagai langkah strategis, bukan tempelan materi.
Budaya dipandang memiliki kekayaan tradisi yang dapat menjadi pondasi kuat membangun bangsa karena nilai-nilainya hadir dalam kebiasaan sehari-hari mulai dari cara berbahasa, adab, pola interaksi sosial, hingga cara anak belajar melalui lingkungan terdekatnya.
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Nanik Sumarfiati menilai workshop ini sebagai tonggak yang sebelumnya sulit dibayangkan dari sisi skala dan dampaknya.
“Laskar Himpaudi, kegiatan yang tidak bisa kami bayangkan sebelumnya. Acara workshop Himpaudi resmi dibuka dengan tertib dan santun,” ujarnya.
Ia juga menekankan kesinambungan pembelajaran, bahwa pendekatan PAUD yang menyenangkan melalui bermain perlu “digandeng” dengan jenjang selanjutnya agar pengalaman belajar anak tetap satu napas.
Dalam pesannya, ia sekaligus meluruskan pemahaman tentang pembelajaran mendalam yang kerap disalahartikan sebagai pembelajaran yang berat.
“Pembelajaran mendalam bukan pembelajaran berat, tapi menusuk pada akarnya, tapi dengan bermain,” katanya.
Pernyataan ini menjadi benang merah kegiatan: kedalaman belajar tidak identik dengan beban, melainkan ketepatan strategi agar anak memahami makna, nilai, dan kebiasaan baik secara alami tanpa kehilangan kegembiraan belajar.
Materi Workshop oleh Sandi Tramiaji Junior

Sandi Tramiaji Junior adalah seorang akademisi, seniman drama, tari, perupa, dan musisi kreatif asal Pasuruan yang saat ini menempuh studi S3 Pendidikan Seni Budaya di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan aktif mengajar sebagai dosen seni tari di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).
Sandi dikenal atas karya akademiknya di bidang estetika pertunjukan, termasuk publikasi imajinya tentang estetika kostum dan make-up dalam film Asterix at the Olympic Games.
Di luar dunia akademik, Sandi juga merilis lagu-lagu di platform global seperti Amazon dan Apple Music, serta membagikan karya dan pemikirannya melalui media sosial dan YouTube.
Selain itu, Sandi Tramiaji Junior juga aktif di bidang seni pertunjukan, seperti seni pantomim, drama, tari, fashion dan make-up, serta mengembangkan usaha kuliner (warung cak bakir) dan persiapan kebutuhan panggung, pelatih dibidang seni, baik utara dan sulap, MC, serta rumah produksi (Sandi Tramiaji Junior Creative Studio).
Sandi Tramiaji Junior adalah alumni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), di mana ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Seni Drama, Tari & Musik dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus.
Pengalamannya di UMSIDA memberikan dasar kuat bagi perkembangan kariernya sebagai akademisi dan seniman.
Dalam materi yang disampaikannya, Sandi mengungkapkan, “Tari bukan hanya sekadar gerakan, tetapi merupakan sarana yang sangat efektif untuk mengembangkan berbagai aspek pada anak.
Melalui tari, anak-anak dapat mengasah keterampilan motorik kasar dan halus mereka, memperkuat rasa percaya diri, serta mengajarkan mereka tentang kerja sama.
Tari berbasis budaya lokal seperti yang kita kenal di Sidoarjo juga mengajarkan nilai-nilai sosial, seperti gotong royong, adab, dan cara berinteraksi yang positif.
Sandi melanjutkan, “Dengan mengintegrasikan cerita dan musik lokal dalam tari, anak-anak tidak hanya mengenal budaya mereka, tetapi juga menghidupkan pembelajaran itu dalam keseharian mereka.”
“Ini adalah cara yang efektif untuk menguatkan karakter dan membentuk kebiasaan baik yang akan terbawa hingga dewasa.”
Materi Growth Mindset dan Budaya Lokal sebagai Kerangka Praktik

Sesi pertama diisi Popo Betti dengan materi Transformasi Pola Pikir PTK PAUD Melalui Growth Mindset.
Pokok bahasannya menekankan perubahan orientasi pendidik: dari menuntut anak “cepat bisa” menuju mendampingi proses anak “terus bertumbuh”.
Growth mindset mendorong guru memperkuat keberanian mencoba, ketahanan saat gagal, dan kebiasaan memperbaiki diri melalui umpan balik yang spesifik, sehingga anak menyukai proses belajar tanpa takut salah.
Materi berikutnya disampaikan Yuni Herlina tentang Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal di PAUD.
Pembahasan diarahkan pada cara menjadikan budaya sebagai konteks belajar: cerita lokal, permainan tradisional, gerak dan lagu, seni, hingga pembiasaan adab dan gotong royong.
Tujuannya agar budaya tidak berhenti pada pengetahuan “tahu”, tetapi menjadi kebiasaan “melakukan” yang membentuk karakter.
Dukungan kampus ditegaskan Dr. Septi Budi Sartika. “Kami memperkenalkan delapan program studi yang bekerja sama dengan Himpaudi.
Umsida dengan senang hati memberikan fasilitas dan nanti bisa dikomunikasikan. Mohon maaf kalau ada hal yang kurang berkenan dan kelanjutan dari kolaborasi,” katanya.
Setelah sesi materi, acara dilanjutkan tari kreasi anak PAUD, menyanyikan Hymne PAUD, lalu foto bersama sebagai penutup rangkaian dan penanda komitmen bersama memperkuat PAUD berbasis budaya lokal.
Penulis: Nabila Wulyandini














