fpip.umsida.ac.id — Reaksi, jurnalism and content creator yaitu salah satu naungan BEM Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), menyelenggarakan lomba infografis dalam rangkaian FPIP Cup 2026.
Ajang ini menarik antusiasme tinggi dengan jumlah peserta sekitar 64–65 orang, mayoritas berasal dari luar Umsida, seperti Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Lampung, dan sejumlah kampus lain.
Ketua pelaksana, Raden Mohammad Lingga Diar Sabta Prakasa (Lingga), menyebut lomba ini menjadi ikhtiar Reaksi untuk memberi ruang kreatif bagi mahasiswa sekaligus memperluas dampak edukasi melalui karya visual.
“Kami ingin menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas, khususnya di bidang desain, sekaligus melatih kemampuan menyampaikan informasi agar lebih menarik dan mudah dipahami,” ujarnya.
Lomba infografis dipilih karena selaras dengan karakter Reaksi sebagai ruang belajar media, desain, dan produksi konten.
Selain mengasah kreativitas, peserta diarahkan untuk menyampaikan pesan secara ringkas, tepat sasaran, dan memiliki nilai edukatif, bukan sekadar visual yang ramai namun minim makna.
Kolaborasi Internal Reaksi dan Dukungan Kemahasiswaan FPIP
Lomba ini diadakan oleh Reaksi dengan kepanitiaan yang seluruhnya berasal dari anggota Reaksi, didukung Kemahasiswaan fakultas serta BEM FPIP.
Dalam struktur panitia, terdapat beberapa divisi seperti acara, humas, dokumentasi-dokumentasi (dekdok), dan perlengkapan yang bekerja sama sejak tahap konsep hingga hari pelaksanaan.
Panitia juga menggandeng media partner untuk memperluas jangkauan publikasi.
Lingga menjelaskan bahwa kerja panitia dituntut rapi karena lomba ini punya target peserta lintas kampus.
“Di dalam panitia ada beberapa divisi yang semuanya saling kerja sama dari awal persiapan sampai hari pelaksanaan. Kami juga dibantu media partner supaya publikasi lebih luas,” katanya.
Ketua Reaksi Muhammad Fairuz Atallah, yang akrab disapa Atta, menambahkan bahwa pembagian peran dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan anggota agar organisasi tetap berjalan seimbang.
“Yang terlibat itu BPH dan sebagian anggota. Tidak semua kami masukkan kepanitiaan karena ada program lain yang tetap harus jalan. Kami lihat skill-nya, yang kuat videografi-fotografi fokus update medsos, yang paham keuangan ke bendahara, yang teliti administrasi ke sekretariat,” tuturnya.
Baginya, pola ini bukan sekadar teknis, tetapi juga strategi penguatan sumber daya manusia agar Reaksi tidak bergantung pada segelintir orang.
Pembagian tugas yang tepat membuat kerja lebih cepat, komunikasi lebih terarah, dan kualitas pelaksanaan lebih terjaga.
Tahapan Online dan Pesan Etika Bermedia Sosial

Tema lomba mengangkat “Etika dalam Bermedia Sosial” sebagai respons terhadap situasi era digital yang masih sering diwarnai perilaku tidak santun, komentar berlebihan, hingga penyebaran konten yang tidak bertanggung jawab.
Atta menegaskan lomba ini ingin menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat bagi publik.
“Tujuan utama lomba ini sebagai sarana edukasi tentang pentingnya etika bermedia sosial. Banyak pihak, termasuk figur publik, terdampak karena mengabaikan kesantunan dan tanggung jawab digital,” ujarnya.
Pelaksanaan lomba dilakukan secara online sehingga peserta dapat mengerjakan dari mana saja.
Tahap pendaftaran sekaligus pengumpulan karya dibuka pada 18–27 Januari 2026, kemudian pengumuman tujuh besar dilakukan 30 Januari 2026, dan puncaknya 31 Januari 2026 berupa pengumuman pemenang.
Lingga menyebut persiapan sudah dimulai sejak awal Januari 2026 melalui pembentukan panitia, penyusunan konsep, hingga publikasi, sementara Atta menekankan proses persiapan internal bahkan dimulai sejak 11 Desember 2025 untuk memastikan kesiapan lebih matang.
Tantangan terbesar panitia muncul pada manajemen waktu dan koordinasi, terutama karena bertepatan dengan libur semester sehingga beberapa panitia pulang kampung.
“Tantangan terbesarnya manajemen waktu dan koordinasi, apalagi libur semester. Tapi koordinasi tetap jalan lewat komunikasi online seperti Zoom atau Meet, jadi tetap aman sampai hari pelaksanaan,” kata Lingga.
Atta menambahkan tantangan lain datang dari faktor mental panitia karena ini pengalaman pertama.
“Karena ini pertama kali, muncul rasa takut dan was-was: ‘jangan-jangan sepi’. Itu tantangan terbesar dari pikiran liar seperti itu,” ujarnya.
Melalui lomba ini, Reaksi berharap peserta mendapat pengalaman baru, menambah relasi lintas kampus, serta meningkat percaya diri dalam menyampaikan pesan secara visual.
Panitia juga berharap karya-karya infografis dapat menyebarkan pesan etika bermedia sosial secara luas dan ikut membangun budaya digital yang lebih santun.
“Kami sempat pesimis, tapi ternyata antusiasme tinggi dari berbagai universitas. Itu pengalaman berharga. Semoga ke depan konsepnya lebih inovatif, jangkauan lebih luas, dan persiapan makin matang,” pungkas Lingga.
Penulis: Nabila Wulyandini

















