fpip.umsida.ac.id — BEM Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar penyampaian materi bersama Wakil Presiden BEM FPIP, Sultan Saladin Batubara, pada 4–5 April 2026 pukul 14.00–15.30 WIB.
Kegiatan yang dipandu Rifky selaku Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) BEM FPIP itu menjadi ruang penguatan pemahaman mahasiswa tentang filosofi pergerakan dan pentingnya berpikir kritis dalam organisasi.
Forum ini diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh hanya bergantung pada semangat sesaat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bagaimana mahasiswa harus memosisikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya bersuara, tetapi juga mampu membaca persoalan secara jernih dan memberi arah solusi.
Mahasiswa Harus Punya Kesadaran dan Arah Gerak
Dalam pemaparannya, Sultan menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agent of change, social control, dan iron stock.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya hadir sebagai pengikut arus isu, tetapi harus menjadi kelompok intelektual yang mampu memengaruhi perubahan sosial melalui kajian dan tindakan terarah.
Gagasan ini juga tampak dalam materi presentasi yang menempatkan mahasiswa sebagai pelopor ide baru, pengawas lembaga publik, sekaligus sumber kepemimpinan masa depan.
“Mahasiswa tidak boleh bergerak hanya karena ikut ramai. Gerakan itu harus lahir dari kesadaran, analisis, lalu diwujudkan dalam aksi yang jelas arahnya,” ujar Sultan dalam forum tersebut.
Ia menjelaskan bahwa filosofi pergerakan mahasiswa dibangun di atas tiga unsur penting, yakni kesadaran, analisis, dan aksi.
Kesadaran menjadi titik awal untuk mengenali ketidakadilan, analisis diperlukan agar masalah dipahami sampai ke akar, sedangkan aksi harus dilakukan secara terencana dan berbasis bukti.
Berpikir Kritis Bukan Sekadar Beropini
Sultan juga menyoroti realitas gerakan mahasiswa saat ini yang sering cepat menanggapi isu viral, tetapi tidak selalu didukung kajian mendalam.
Ia menilai pola seperti itu membuat gerakan mudah emosional, minim data, dan berhenti pada penolakan tanpa menawarkan jalan keluar.
Pandangan ini sejalan dengan isi materi yang menyinggung kecenderungan gerakan yang reaktif, minim bukti, dan kurang solutif.
“Berpikir kritis itu bukan sekadar berani bicara. Mahasiswa harus bisa menguji klaim dengan data dan logika, bukan hanya menjadi korban opini,” tegasnya.
Dalam sesi materi, peserta juga dikenalkan pada pentingnya membedakan gejala dan akar masalah.
Sultan mencontohkan bahwa persoalan yang muncul di permukaan sering kali bukan inti masalah yang sesungguhnya.
Karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan berpikir sistematis, termasuk melalui metode 5 Whys untuk menelusuri penyebab utama suatu persoalan.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menghindari logical fallacy atau kesalahan berpikir dalam diskusi organisasi.
Menurutnya, kualitas gerakan mahasiswa akan menurun jika perdebatan lebih banyak diisi serangan personal, penyederhanaan argumen lawan, atau asumsi berlebihan tanpa dasar.
Gerakan Mahasiswa Harus Solutif
Pada bagian akhir, Sultan menekankan bahwa gerakan mahasiswa ideal harus bergerak menuju perubahan yang solutif.
Ia membedakan antara gerakan reaktif, pre-emptive, dan solutif.
Gerakan terbaik, menurutnya, adalah gerakan yang memadukan aksi, kajian, dan rekomendasi kebijakan sehingga mampu memberi dampak yang lebih panjang.
“Gerakan mahasiswa yang kuat itu bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang punya data, solusi konkret, dan arah perubahan yang jelas,” katanya.
Kegiatan yang dimoderatori Rifky ini berlangsung dialogis dan tertib.
Kehadiran moderator membuat pembahasan berjalan lebih terarah, sehingga materi tidak berhenti sebagai ceramah satu arah.
Melalui forum ini, BEM FPIP berupaya meneguhkan peran mahasiswa sebagai kekuatan intelektual yang tidak hanya kritis dalam menyikapi isu, tetapi juga matang dalam merumuskan solusi.
Materi tersebut merujuk pada paparan Filosofi Pergerakan Mahasiswa dan Berpikir Kritis karya Sultan Saladin Batubara.
Penulis: Nabila Wulyandini

















